Welcome Message

Blog ini didedikasikan bagi Masyarakat Dunia Maya Indonesia sebagai Forum Komunikasi antar para penggiat teknologi Dunia Maya agar dapat saling berukar informasi dan perkembangan teknologi Dunia Maya di Indonesia dan di Dunia Global Untuk memberikan Komentar/Tanggapan atas posting di Blog ini, Silahkan Klik icon "?" dan isikan komentar/tanggapan Anda sekalian. Silahkan tekan TAB bila diminta mengisi KODE VERIFIKASI Semoga bermanfaat.

Era Data yg berlimpah. Big Data = Big Brother? Bagaimana masa depan Penyelenggara Jaringan Telekomunikasi?

0

Posted on : 5:32 PM | By : S Roestam | In : , , ,

Dengan makin tersedianya jaringan Internet berkecepatan tinggi / jaringan pita lebar diseluruh dunia, termasuk Indonesia, maka dimungkinkan pengumpulan dan akses berbagai data yg tersedia sangat berlimpah. Keberhasilan dalam mengolah data yang tak terstruktur yg berlimpah itu menjadi informasi yang bermanfaat telah ditunjukkan oleh perusahaan global yang besar seperti Google, Yahoo, Salesforce, Facebook, IBM yang menjadikan mereka peusahaan-perusahaan yang sangat menguntungkan dan  berkapitalisasi sangat tinggi di pasar saham global.

Dewasa ini para analis data sangat dibutuhkan oleh banyak perusahaan untuk mengolah data-data yang berlimpah itu menjadi informasi yang bernilai sangat tinggi bagi bisnis mereka, seperti info tentang profil pelanggan, kebiasaan atau kesukaan mereka dalam membeli barang dan jasa, jenis produk atau jasa yg mereka gemari, dan lain-lain.

Data yang sekecil apapun, bila kita bisa mengolahnya secara kreatif dan inovatif, bisa menjadi informasi yang sangat bermanfaat bagi bisnis maupun dalam pengambilan keputusan-keputusan penting dalan ekonomi, bisnis, strategi Pemerintah maupun bisnis swasta. Data-data itu tidak lagi dapat diproses secara tersuktur seperti menggunakan basis data SQL, melainkan menggunakan sistem pengolahan data yang tidak terstruktur oleh karena besarnya volume data dan besarnya variabel yang diperlukan. Mesin pengolah SQL sudah tidak lagi mapu mengolahnya, maka dikenal pemroses data Non-SQL sbagai gantinya, menggunakan komputer berkecepatan sangat tinggi, multi-processors atau parallel processors.

Analoginya adalah seperti saat kita mulai menggunakan mikroskop, maka kita akan menemukan berbagai temuan-temuan baru yang memungkinkan kita membuat keputusan pengobatan penyakit yang dahulunya tidak kita ketahui. Demikian pula dengan Era Big Data atau Banjir Data yg terjadi saat ini dengan kemajuan teknologi masa kini, kita bisa menemukan hal-hal baru yang sebelumnya tidak kita ketahui.

Contohnya, info yang berseliweran di dunia maya, seperti pembicaraan kita atau keluhan-keluhan dan kritik-kritik kita, opini kita melalui email, chatting, messaging, SMS, Facebook, Twitter, blogs, komentar di forum diskusi elektronik, dsb, dapat dilolah sebagai Big Data untuk menghasilkan keputusan-keputusan yang bermanfaat bagi perusahaan, bisnis, maupun dalam membuat kebijakan Pemerintah.

Contoh penggunaan Big Data dalam dunia political science adalah untuk menganalisa pidato2 di DPR, press release, dan info lainnya, untuk mengetahui bagaimanakah suatu ideologi politik itu bisa menyebar luas di suatu negara atau wilayah.

Rick Smolan, pencipta serial fotografi "Day in the Life" berniat untuk membuat proyek "The Human Face of Big Data" melaui dokumentsi dan koleksi Big Data yang akan diolah menjadi "humanity dashboard", atau panel untuk menampilkan apa yg sedang terjadi, misalnya tanda-tanda munculnya kemiskinan di suatu wilayah atau negara, dari analisis Big Data itu. Bila kita tidak berhati-hati dalam mengelola Big Data ini, maka bisa menjadi "Big Brother", momok yang mengawasi gerak-gerik kita seperti diramalkan oleh George Orwell dalam novelnya yang berjudul "Ninteen-Eighty-Four" pada tahun 1949.

Perihal penggunaan Big Data ini ternyata telah dan akan digunakan di Indonesia, melalui proyek Global Pulse yang dibiayai oleh PBB tahun 2012 ini. Indonesia ditunjuk oleh Sekjen PBB sebagai tempat untuk melaksanakan Riset Global Pulse, memantau kondisi masyarakat miskin Indonesia dalam situasi krisis global, dan mengambil kebijakan sosial-ekonomi untuk membantu mereka. Mitra PBB di Indonesia adalah BAPPENAS, dengan dibantu oleh operator telekomunikasi Indonesia (TELKOM?).

Bagi perusahaan swasta, kemampuan untuk menganalisis Big Data ini akan dapat memajukan bisnis mereka cukup signifikan, seperti yang telah dilakukan oleh Google, Yahoo, Salesforce, Facebook, IBM dan lainnya. Ini memerlukan ahli-ahli analisis Big Data yang kreatif dan inovatif. Banjir data memang memberikan berikan keuntungan bisnis bagi perusahaan-perusahaan "Over-the-Top" tersebut diatas. Namun bagaimana dengan nasib para penyelenggara telekomunikasi yang kobol-kobol menyalurkan Big Data itu melalui jaringannya. Akankah mereka hanya bisa menunggu dan menyerahkan nasibnya pada kemajuan teknologi dan kemajuan zaman?

Silahkan ditanggapi.

Share this :

  • Stumble upon
  • twitter

Comments (0)

Post a Comment