Welcome Message

Blog ini didedikasikan bagi Masyarakat Dunia Maya Indonesia sebagai Forum Komunikasi antar para penggiat teknologi Dunia Maya agar dapat saling berukar informasi dan perkembangan teknologi Dunia Maya di Indonesia dan di Dunia Global Untuk memberikan Komentar/Tanggapan atas posting di Blog ini, Silahkan Klik icon "?" dan isikan komentar/tanggapan Anda sekalian. Silahkan tekan TAB bila diminta mengisi KODE VERIFIKASI Semoga bermanfaat.

EXTREME TRUST: Keputusan yang sulit bagai para Operator Telekomunikasi di Era Persaingan yang ketat

0

Posted on : 12:17 AM | By : S Roestam | In : , ,

Di Era masa lalu ketika persaingan di bidang telekomunikasi masih belum intensif, umumnya operator telekomunikasi itu sangat dipercaya masyarakat, misalnya soal besarnya tagihan bulanan selalu tepat dan akurat, tidak ada upaya untuk mencari peluang menambah penghasilan secara tidak lazim atau menyalahi aturan.
Demikian pula tentang mutu layanan, umumnya sesuai dengan apa yang dispesifikasikan, tidak kurang dari itu, dan mungkin bisa lebih baik.

Namun di Era Persaingan layanan jasa telekomunikasi yang sangat ketat dewasa ini, maka julukan "Extreme Trust" bagi para operator telekomunikasi menjadi akan sangat sulit dicapai, mengingat saat ini sudah menjadi trend bagi para operator untuk mendapatkan revenue yang makin meningkat melalui berbagai upaya yang mungkin bisa melanggar kode etik berbisnis yang baik.

Sebagai contoh berbagai upaya operator di Amerika Serikat sebagaimana dilaporkan oleh harian The New York Times, yang melakukan bisnis secara tidak etis untuk mendapatkan revenue yang besar adalah sebagai berikut:

  1. Operator tersebut melatih para petugas Call Center agar mempersulit para pelanggan yang ingin mendapatkan refund kelebihan bayar akibat kesalahan hitung biaya.
  2. Para karyawan Call Center juga di-instruksikan agar tidak memberikan informasi yang benar bilamana pelanggan menanyakan bagaimana cara agar tidak melakukan  kesalahan akses layanan data/internet sehingga mereka di-charge biaya akses yang mahal.
  3. Secara Pro-aktif memberikan layanan informasi kepada pelanggan agar tidak membuat kesalahan yang mengakibatkan mereka di-charge biaya mahal akan membebani operator telekomunikasi, oleh karena itu hal ini tidak mereka lakukan. Dengan makin kompleksnya berbagai jenis layanan telekomunikasi masa kini, kemungkinan para pelanggan membuat kesalahan operasi yang mengakibatkan mereka terkena biaya mahal itu menjadi makin besar.
Di banyak negara, para operator telekomunikasi seluler bekerjasama dengan penyedia kontent (Content Provider, CP) yang menawarkan berbagai jasa, seperti download/langganan Ring Back Tone (RBT), download software atau gambar yang menarik, foto bintang filem seksi, dsb.

Tatacara yang benar untuk layanan ini adalah mengirim SMS ke pelanggan tentang jasa ini tanpa pelanggan terkena biaya apapun. Namun bila pelanggan menerima tawaran ini melalui jawaban atau registrasi, barulah penyedia content berhak untuk memotong pulsa pelanggan.

Yang sekarang banyak terjadi adalah, pelanggan langsung dipotong pulsanya sebesar Rp 2000 per SMS, walaupun pelanggan belum menyatakan kesediaannya untuk berlangganan atau download konten yang ditawarkan. Kiriman SMS ini (SMS "Zombie") dilakukan lebih dari satu kali per hari, dan dilakukan tiap hari pada pelanggan PraBayar Seluler yang jumlahnya mencapai 95% dari total pelanggan seluler yang sekitar 200 juta orang.

Kerugian minimal pelanggan per hari mencapai Rp2000 x 200-juta= Rp400 Milyar, dan dalam sebulan mencapai Rp 12 Trilyun! Suatu jumlah yang fantastis!
Keuntungan sebesar ini dibagi berdua antara Operator dan Penyedia Konten.

Bersediakah operator dan Penyedia Kontent untuk menghentikan praktek illegal ini? Mengingat jumlah revenue yang begitu besar dan sangat significant bagi pendapatan perusahaan, keputusan ini akan memerlukan pemikiran manajemen dua-tiga kali sebelum menyetopnya.

Karena kita semua adalah pelanggan, maka selama kita ikhlas dipotong pulsanya minimal Rp2000 per hari, maka hal ini bukan masalah besar. Pertanyaannya, ikhlaskah kita semua?
Silahkan difikirkan dan disarankan apakah solusi yang terbaik untuk permasalahan ini.
Semoga bermanfaat bagi kemajuan bangsa dan negara.

PANDI akan ganti pengelolaan Registry, diserahkan ke Swasta

0

Posted on : 11:59 AM | By : S Roestam | In : ,

Pengelola Nama Domain Internet Indonesia (PANDI) akan segera mengganti sistem registry yang selama ini digunakan dengan standar yang baru. Demikian diungkapkan Andi Budimansyah, Ketua Umum PANDI, saat memperkenalkan program pengurus baru PANDI di Jakarta, Kamis (18/8).  

Dalam beberapa bulan mendatang, PANDI menyatakan akan melepaskan fungsinya sebagai registrar. Fungsi ini akan diserahkan kepada perusahaan-perusahaan yang dinilai mampu dan memenuhi persyaratan. “Dan kami tidak akan membatasi jumlah registrar,” kata Andi.  

Selain itu, PANDI menyatakan akan menerapkan standar kebijakan internasional dalam pengelolaan [namadomain].id. PANDI dalam hal ini melakukan kerjasama teknis dengan perusahaan GMO Registry dari Jepang yang memiliki mitra lokal, yaitu PT. Telematika Mitrakreasi.  

PANDI menginginkan [namadomain].id ini menjadi kebanggaan masyarakat Indonesia, seperti masyarakat Jepang yang bangga dengan [namadomain].jp atau Inggris dengan [namadomain].uk. salah satu permasalahan dalam mencapai ini adalah tata cara pendaftaran domain yang sulit. “Kami akan bekerja keras memperbaikinya,” lanjut Andi.       Dari 250 ribu nama domain yang digunakan di Indonesia, baru 23 persen yang menggunakan [namadomain].id di Indonesia atau sekitar 58 ribu. Angka ini juga masih sangat kecil jika dibandingkan nama domain internet di seluruh dunia, yang sekitar 200 juta nama domain.      

sumber: Willi Hastonoputro (willi@wartaekonomi.com)

Pemerintah RI Kecewa RIM-BlackBerry bangun pabrik di Malaysia

0

Posted on : 2:52 AM | By : S Roestam | In : ,

Jakarta - Pemerintah sangat bereaksi terkait keputusan produsen Blackberry (BB) Research In Motion (RIM) yang lebih memilih Malaysia sebagai basis produksinya di ASEAN. Padahal jika dihitung-hitung jumlah penjualan BB di Malaysia jauh tertinggal dengan Indonesia.

Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Gita Wirjawan menyebutkan penjualan BB di Indonesia termasuk yang laris manis. Pada tahun depan, penjualan BB di Tanah Air diperkirakan akan menembus 4 juta unit dengan nilai rata-rata US$ 300 per unit. Hal ini jauh berbeda jika dibandingkan dengan penjualan BB di Malaysia yang hanya sekitar 400 ribu unit per tahun.

"Blackberry akan dilakukan penjualan sekitar 4 juta unit tahun depan, itu rata-rata 300 dollar perunit, sedangkan di Malaysia mereka tidak akan bisa jual lebih dari 400 ribu unit itu per sepuluhnya," ujarnya saat ditemui di Kantor Kemenko Perekonomian, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Rabu (7/9/2011). (sumber: Detik.com)

Gita mengaku kecewa karena perusahaan BB justru membangun pabriknya di Malaysia. Untuk itu, dirinya meminta pemerintah untuk menyikapi hal tersebut, salah satunya dengan pemberlakuan disinsentif seperti tarif perpajakan.

"Kenapa bangun pabriknya di Malaysia? Nah ini tentunya mereka bangun di sana untuk dijual di Indonesia kan, ini perlu disikapi, nah penyikapannya ini bagaimana, apakah dalam bentuk tarif non tarif, atau inventaris mereka untuk bangun kapasitas produksi di indonesia," jelasnya.

Selain perusahaan BB, ada juga perusahaan Bosch asal Jerman yang terancam mendapatkan disinsentif. Bosch sudah membangun pabrik solar panel di Malaysia namun pemasarannya ke Indonesia.

"Perusahaan lainnya adalah Bosch, perusahaan asal Jerman, mereka bangun pabrik solar panel di Malaysia juga pasti ada kepentingan mereka untuk jual produksi mereka di Indonesia, nah ini saya tadi himbau di forum tadi dan sangat diterima oleh menko perekonomian, menkeu dan menperin, untuk kita bisa invetaris produk-produk apa saja yang dikonsumsi dengan skala yang besar di Indonesia tapi kok diproduksi di luar negeri, atau di negara tetangga, kenapa tidak diproduksi di Indonesia, ini perlu disikapi," jelasnya.

Gita melihat aturan tersebut diperlukan untuk perusahaan-perusahaan yang memiliki pangsa pasar besar di Indonesia tetapi enggan membangun pabrik di Indonesia, serta industri yang masih mengekspor barang mentah.

"Sekarang kan terlihat sekali mayoritas ekspor kita dari barang raw material, tidak diproses mestinya kita bisa eskpor barang-barang yang ada value added, tapi jangan lupa kita juga memiliki kapasitas mengonsumsi untuk skala yang besar, jangan sampai produk-produk yang kita konsumsi ini tidak diproduksi di Indonesia," ujarnya.

Pemberian disentif tersebut, lanjut Gita, diberikan hingga perusahaan tersebut membangun pabrik. bentuknya bisa berupa disinsentif tarif dan non tarif. "Bukan menyetop, disisentif, itu larangan. disinsentif itu meningkatkan barrier bisa lewat tarif atau non tarif," pungkasnya.