Welcome Message

Blog ini didedikasikan bagi Masyarakat Dunia Maya Indonesia sebagai Forum Komunikasi antar para penggiat teknologi Dunia Maya agar dapat saling berukar informasi dan perkembangan teknologi Dunia Maya di Indonesia dan di Dunia Global Untuk memberikan Komentar/Tanggapan atas posting di Blog ini, Silahkan Klik icon "?" dan isikan komentar/tanggapan Anda sekalian. Silahkan tekan TAB bila diminta mengisi KODE VERIFIKASI Semoga bermanfaat.

Facebook akan melangsungkan Penawaran IPO minggu depan

0

Posted on : 3:10 AM | By : S Roestam | In : ,

Jejaring sosial tebesar didunia, Facebook akan melangsungkan Penawaran Saham Perdanayanya ke masyarakat  (IPO) pada minggu depan. Saat ini FB memiliki jumlah pelanggan sebesar lebih dari 800-juta orang, dan penghasilan tahun 2011 sebesar US$3,8 Trilyun dan laba usaha sebesar US$1,5 Milyar. Valuasi nilai saham FB diperkirakan sebesar US$75-100 Milyar, dan saat IPO diperkirakan menghasilkan dana sebesar US$10 Milyar (Rp 90 Trilyun) yang merupakan terbesar ke-empat setelah IPO Visa, General Motors dan AT&T Wireless.

Singkat kata, perusahaan jejaring sosial global FB ini ternyata dapat memberikan nilai tambah yang sangat besar (ROI), dengan modal investasi yang relatif kecil. Ini berbeda dengan bisnis layanan jaringan telekomunikasi yang membutuhkan modal CAPEX yang sangat besar, namun pengembalian modal yang kecil dan untuk jangka waktu yang lama.

Perusahaan sejenis ini, seperti Google, Yahoo, Salesforce, dan lainnya memang dewasa ini sedang booming meraih laba yang besar tanpa harus melakukan investasi yang besar. Ini adalah tren baru perusahaan2 dengan model bisnis "over-the-top" yang sangat menguntungkan.

Multiply pindahkan Kantor Pusatnya ke Indonesia

0

Posted on : 6:38 AM | By : S Roestam | In : ,

Jakarta - Indonesia rupanya telah bikin Multiply kepincut. Sampai-sampai, perusahaan e-Commerce asal Amerika Serikat ini berani mengambil langkah besar dengan memindahkan kantor pusatnya, dari Florida ke Indonesia.

Menurut Peter Pezaris, Founder and CEO Multiply Inc, proses pemindahan ini akan berjalan dalam jangka waktu 12 bulan ke depan. Ia berharap, langkah ini dapat menjadi landasan kuat bagi masa depan bisnis online Multiply di Indonesia.

"Tentunya semua ini adalah bentuk komitmen kami dalam memajukan potensi e-commerce di Indonesia," kata Peter dalam acara Multiply Online Seller Convention (MOSCON) di The Hall, Senayan City, Jakarta, Sabtu (28/1/2012).

Terus meningkatnya ketertarikan masyarakat Indonesia terhadap belanja online, telah mendorong Multiply untuk menjalankan bisnis secara serius di Indonesia. Langkah ini telah dilakukan Multiply sejak awal 2011 lalu.

Menurut Peter, tahun 2011 merupakan tahun yang penting bagi Multiply, dimana Multiply resmi mengubah fokus menjadi sebuah platform jual beli dengan model Marketplace berfitur lengkap.

Multiply, kata dia, semakin mempermudah transaksi online yang aman dan nyaman dengan menawarkan layanan-layanan inovatif. Mulai dari perlindungan pembeli, sistem inventori yang terintegrasi, dan gratis ongkos kirim yang kini diperpanjang hingga
Maret 2012.

"Sejak diluncurkan pada bulan Februari 2011, jumlah online merchant kami yang sebanyak 25.000 meningkat lebih dari 100% menjadi 60.000 di bulan Januari 2012," ungkap Peter.

MOSCON 

Untuk memperkuat hubungan dengan para online seller di Multiply dari berbagai daerah, Multiply Indonesia menggelar acara Multiply Online Seller Convention (MOSCON) untuk kali pertamanya di Indonesia.

Acara ini merupakan kesempatan bagi para online seller untuk dapat bertatap muka langsung untuk berbagi cerita, mendapatkan tips-tips jual-beli online sukses dari para bos Multiply, seperti Peter selaku CEO Multiply dan Daniel Tumiwa yang jadi Country Manager Multiply Indonesia.

Selain itu, di acara tersebut para penjual online akan menghadiri beberapa forum diskusi dan kelas training interaktif untuk semakin mengembangkan potensi bisnis mereka.

"Kami berharap para penjual online yang terlibat hari ini dapat memahami tagline konvensi ini 'Ini Baru Jualan'. Bagi kami tagline ini memiliki dua makna yaitu sistem platform baru yang tepat untuk meningkatkan bisnis online shopping, yang kedua bahwa mereka puas setelah menggunakan Multiply sebagai landasan berjualan mereka," kata Daniel.

Selain dapat bertatap langsung dengan para eksekutif top Multiply, para peserta konvensi yang berprestasi dalam penjualan mereka akan mendapatkan penghargaan dari Multiply Indonesia. Penghargaan diberikan kepada toko-toko yang meraih nilai transaksi dan traffic tertinggi selama tahun 2011.

Pemenang menerima berbagai macam hadiah, mulai dari gadget canggih hingga perangkat home theater. Dalam rangka meraih sukses yang berkesinambungan, Multiply Indonesia berkontribusi dalam mengedukasi masyarakat Indonesia mengenai potensi e-commerce di Indonesia.

"Multiply ingin membangun sebuah landasan belanja online yang mudah dan nyaman dengan berbagai fitur yang ditawarkan. Di antaranya, pembeli dan penjual dapat berinteraksi dan bertukar pendapat sebelum memutuskan untuk membeli barang serta
keunggulan-keunggulan lainnya baik untuk pembeli dan online seller," pungkas Daniel.

( rou - detik.com 28 Jan 2012)

BPPT kembangkan perangkat keras khusus e-voting

0

Posted on : 10:16 PM | By : S Roestam | In : ,

Jakarta (ANTARA News) - Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) sedang mempersiapkan pengembangan sistem perangkat lunak pemilihan umum elektronik (e-voting) yang tertanam (embedded) pada perangkat keras khusus e-voting.

"Perangkat ini usai digunakan pada Pemilu nasional, juga bisa dipakai untuk berbagai pemilihan seperti Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) hingga Pemilihan Kepala Desa (Pilkades)," kata Kepala Program e-voting BPPT Andrari Grahitandaru seusai Diskusi dan Simulasi Pemilu Elektronik dengan 20 anggota DPRD Kabupaten Gianyar di Jakarta, Kamis.

Sebelum merancang perangkat ini, ujarnya, tentu saja harus mengkaji berbagai pengalaman kegagalan e-voting yang pernah terjadi di beberapa negara seperti di Irlandia atau India yang perangkatnya tak dilengkapi oleh sistem verifikasi.

Contoh kegagalan lainnya adalah ketika dilakukan eksperimen pertama "online voting" di AS pada Oktober 2010, dimana para pejabat di Washington, DC, mendirikan sebuah sistem berbasis internet untuk pemilih luar negeri yang akan memberikan suara mereka.

"Para hacker tidak hanya mampu menembus sistem, tetapi juga sedang memantau apa yang terjadi di dalam sistem itu sendiri. Para siswa bisa melihat tanda tangan elektronik dari hacker yang berbasis di China dan Iran," katanya. 

Karena itu, tambahnya, Indonesia sebaiknya belum menggunakan sistem online dalam menerapkan e-voting karena selain keamanannya tak bisa dijamin, infrastruktur internet belum merata, ditambah lagi banyak masyarakat yang gagap teknologi.

"E-voting juga hanya akan diterapkan bagi daerah yang memang benar-benar telah siap, baik dari sisi teknologi, pembiayaan, perangkat lunaknya, serta kesiapan masyarakat. Mereka yang belum siap tetap menerapkan pemilu konvensional," katanya.

Namun diakuinya, teknologi pemilihan umum elektronik (e-voting) berkembang sangat cepat di dunia, bahkan di Estonia pemilu elektronik sudah menerapkan sistem "mobile voting" melalui ponsel.

Estonia, suatu negara di Eropa yang penduduknya kebetulan hanya sedikit (lebih dari satu juta jiwa), disebutkannya, sudah berhasil menyelenggarakan e-voting dengan sistem internet (online) secara bertahap pada 2005, 2007, dan 2009. Lalu kemudian pada 2011 menerapkan pemilu melalui ponsel.

Selain Estonia, negara bagian di AS yakni Oregon, sudah memungkinkan penyandang cacat untuk memilih dengan iPad selama pemilihan khusus pada bulan November 2011.

Sementara itu di Long Beach, California, AS, diuji coba tracking kotak suara dengan menempatkan identifikasi frekuensi radio (RFID), chip di kotak suara untuk melacak gerakannya setelah pemungutan suara ditutup. 

Sedangkan negara-negara bagian lainnya baru menginstal scanner berkecepatan tinggi untuk membantu menghitung surat suara (kertas bukti) lebih cepat. 
(T.D009/Z002)

Editor: Ruslan Burhani

Dapatkah kita mencari keuntungan dari Media Sosial?

0

Posted on : 12:54 PM | By : S Roestam | In : , , ,

Facebook sebentar lagi akan melaksanakan penjualan sahamnya melalui IPO, namun dimanakah keuntungan yang bisa diperolehnya? Berikut ini adalah sebuah tulisan dari Craig Beattle tentang hal ini:

With the Facebook IPO looming, thoughts are returning to how social websites will actually generate money. Sure, Facebook is used globally, has an extraordinary number of users and is the top social network in a growing number of countries – but how is it likely to make revenue? Advertising revenue has always been the principle answer here, whether it’s Twitter, MySpace or any other social network. It worked for Google and it could work here too, couldn’t it?
I think it’s interesting that the revenue model for LinkedIn is quite different. There is advertising there, but the main focus is around recruiting people and getting recruited. Those people who want to find the best talent pay a little extra to access features that make it easier to do just that – find the best talent.

For Facebook however, people use the site for lots of different purposes so it’s harder to hold back such targeted functionality. Actually I think Facebook could learn from Apple and Blizzard – the games company behind World of Warcraft. Blizzard made $1 million in 1 hour by selling a flying horse in their game. The horse was actually no better than ones you could find in the game, and you already had to be able to ride one (so probably had something similar already) in order to buy. It was kind of pretty and just a few dollars so, despite offering no value or advantage in the game, millions of players bought it for real world dollars. Zynga and a number of other social game developers have taken this further with the possibility of playing games for free, but paying a little cash to be able to play the game faster or have that one extra thing that looks quite pretty. Virtual goods available at a low price are now a huge market.

What does this mean for Facebook? There’s a scam going around on Facebook at the moment promising to be able to turn your Facebook page pink rather than the usual blue. People are clicking on it because they want it – I have little doubt that if Facebook charged $0.10 to change the color of Facebook profiles we would see them make $1 million in less than an hour. Although, that’s not even the sweet spot here. If Facebook were able to control the payment method as Apple does in the App store, then they could take a little revenue from everyone using their platform, from all the virtual purchases (again, as Apple does on all those little purchases through apps and in the app store). Facebook is starting to do this already – this is what Facebook credits are about.

In my view it’s not in Facebook’s interest to offer Facebook-branded products (save except for caps or t-shirts possibly), but rather to corner social commerce, to create a platform where it’s easier and more convenient to purchase items in Facebook credits – all the while seamlessly sharing the purchases and implicitly recommending products to their friends.

What does this mean for insurers?

One is do the virtual goods need insurance? Personally I’m not sure about digital equine & aviation insurance in World of Warcraft or virtual farm insurance in Farmville, but Eve Online did have space ship insurance built in. Does anyone remember Second Life and the virtual businesses operating in it?

The second and more important one is that Facebook will become a platform for doing business. The infrastructure is already in place, the opportunity is too great and the current client base too large for this to be ignored. Today Facebook credits are just for games, tomorrow why wouldn’t young drivers top-up their pay-as-you-go car insurance on Facebook? All the while sharing the product and provider with their friends as they do it.

Facebook isn’t going to be the next virtual shop on the high street, it will be a new high street on which established brands and new brands build their shops