Welcome Message

Blog ini didedikasikan bagi Masyarakat Dunia Maya Indonesia sebagai Forum Komunikasi antar para penggiat teknologi Dunia Maya agar dapat saling berukar informasi dan perkembangan teknologi Dunia Maya di Indonesia dan di Dunia Global Untuk memberikan Komentar/Tanggapan atas posting di Blog ini, Silahkan Klik icon "?" dan isikan komentar/tanggapan Anda sekalian. Silahkan tekan TAB bila diminta mengisi KODE VERIFIKASI Semoga bermanfaat.

MP3 Clips

Akses Internet Mobile di Indonesia meningkat 26% Tahun 2010

0

Posted on : 7:31 PM | By : S Roestam | In : ,

Akses Internet melalui perangkat bergerak (mobile) baik ponsel maupun netbook dalam survey terbaru dari lembaga riset Taylor Nelson Sofres yang disponsori oleh Yahoo Indonesia pada tahun 2010 mencatat lonjakan sebesar 26% dibandingkan dengan tahun 2009.

Kenaikan tajam akses Internet mobile ini didorong oleh maraknya akses ke konten hiburan, lagu-lagu, video streaming (youtube), informasi berita dan lain-lain serta maraknya pemanfaatna jejaring sosial menggunakan ponsel dan netbook. Hal in berlangsung walaupun layanan 3G maupun CDMA EVDO masih sering "ndut-ndutan", yang hanya lancar saat promosi awalnya saja. Begitu makin banyak pelanggan yang mendaftar, maka layanan sedikit demi sedikit menurun kualitasnya, dari klaim semula 3,6 Mbps, 7,2 Mbps, 14,4 Mbps maupun 42 Mbps, sebab klaim kecepatan tranmisi yang tinggi itu berdasarkan kecepatan puncak saat hanya ada 1-orang pengguna saja. Kasus ini akan berulang untuk jenis-jenis akses wireless lainnya, baik untuk penggunaan fixed, nomadic maupun mobile, seperti WiMAX atau LTE yang sudah cukup lama ditunggu-tunggu kehadirannya, sebab semua memiliki kemiripan, yaitu keterbatasan kapasitas jumlah pengguna pada satu saat (concurrent users) yang masing-masing ada keterbatasannya.

Masyarakat saat ini masih dapat menerima akses Internet mobile yang lambat bila membuka situs-situs yang padat isi grafiknya, sebab umumnya hanya ingin melihat isi berita-berita, maupun untuk chatting via YM, IM, twitter dan facebook yang dapat tetap berjalan pada kecepatan GPRS maupun EDGE.

Namun dengan makin banyaknya pengguna ponsel canggih (smartphones) seperti iPhone, iPod, iPad, HP Andoid, netbook murah seharga Rp 2-jutaan, maka akan makin banyak masyarakat yang merasa jengkel dan gemes kalau layanan 3G, CDMA EVDO, maupun WiMAX nantinya, bila janji kecepatan transmisi yang tinggi itu akhirnya hanya ter-realisasi dengan kecepatan setara GPRS atau malah dibawahnya, sebab keterbatasan jumlah BTS dan pita yang digunakannya. Keluhan pelanggan akan berkurang bilamana kapasitas concurrent users-nya memang di-disain cukup tinggi untuk dapat menampung lonjakan jumlah pengguna.

Bilamana regulator dan operator layanan broadband wireless (fixed, nomadic dan mobile) tidak dapat menjamin kualitas layanan sesuai janji, terutama kecepatan transmisi, maka layanan broadband menggunakan kabel dan serat optik akan tetap menjadi pilihan pengguna fixed broadband service untuk kepuasan layanan internet atau untuk penggunaan bisnis yang serius yang memerlukan keandalan layanan.

Dari hasil survey, diperoleh kesimpulan bahwa persentase akses Internet yang tertinggi dilakukan 83% dari warnet, 22% dari ponsel/PDA, 19% dari Kantor, 17% dari Sekolah, 16% dari rumah, 9% dari Rumah Teman, dan 7% dari lokasi HotSpot WiFi.

Dari survey juga diperoleh informasi bahwa ada penurunan pelanggan Warnet sebesar 19% tahun 2010 dibanding tahun 2009, karena makin banyak masyarakat yang memilih memasang layanan kabel (ADSL - Speedy) dan serta optik (First Media, dll), sehingga tidak lagi memerlukan layanan warnet, sebab langganan layanan langsung di rumah itu sudah cukup murah, dibawah Rp 200.000 per bulan flat sampai 2 Gbytes dengan kecepatan transmisi sekitar 512 kpbs.

Jumlah pengguna Internet juga dilaporkan sebanyak 25,4 juta (Netizens), dengan rata-rata usia yang terbanyak adalah antara 15-19 tahun. Jumlah ini akan makin meningkat dalam beberapa waktu mendatang, mengingan jumlah ponsel yang beroperasi di Indonesia sudah mencapai 160 juta ponsel.

Semoga bermanfaat untuk merancang layanan-layanan broadband yang baru.

Puluhan Situs Startup muncul untuk siap gantikan Facebook akibat kebijakan privasi yang makin melemah

0

Posted on : 3:58 PM | By : S Roestam | In : ,

Situs jejaring sosial Facebook telah melakukan perubahan kebijakan privasi sebanyak enam kali dalam beberapa tahun terakhir yang mendapat protes dari para anggotanya. Namun dengan jumlah anggota yang saat ini telah mencapai 400-juta, sulit untuk begitu saja meninggalkan FB yang sangat populer sebagai media komunikasi antar anggota yang sangat efektif.

Minggu lalu pun ada upaya untuk memboikot FB gara-gara ada rencana untuk menyelenggarakan lomba membuat karikatur Nabi Muhammad SAW oleh seorang warga AS. Terjadi Pro dan Kontra apakah Indonesia akan memboikot FB. Namun setelah warga AS tersebut mengakui kesalahannya dan meminta maaf kepada ummat Islam sedunia, FB tidak jadi diboikot.

Ketidak puasan terhadap kebijakan privasi di FB memberikan pelua yang besar bagi para pendatang baru untuk mengambil sebagian dari 400-jutaan pelanggan FB dan membuat situs baru itu maju pesat.

Beberapa dari situs-situs baru yang siap menggantikan FB adalah sbb:

1. Pip.io yang mirip Twitter tetapi memberikan tingkat privasi yang lebih tinggi;
2. http://opensource.appleseedproject.org/ -sebuak proyek sosial media Open Source yang memberikan privasi yang lebih baik;
3. http://www.kickstarter.com/ - sosial media startup buatan para mahasiswa Universitas New York;
4. http://www.collegiatenation.com/ - sebuah sosial media baru dari komunitas di California AS;
5. http://www.quitfacebookday.com/ - situs bagi para pengguna FB yang frustrasi.

Ini merupakan kesempatan baik bagi para pengguan FB Indonesia untuk tidak kalah dalam upaya menggantikan FB ke Jejaring Sosial milik Bangsa Indonesia. Silahkan anak-anak muda Indonesia untuk berkreasi bagi kemajuan bangsa dan negara dan tidak tergantung lagi dari situs-situs jaring sosial luar negeri.

Mari kita buktikan bahwa bangsa Indonesia juga bangsa yang kreatif dan innovatif!

------------- Referensi Berita -------------


It sounds like a kamikaze mission: an upstart with a meager number of users and no capital squaring off against Facebook, a social networking juggernaut with more than 400 million members and a $15 billion valuation.

But despite those odds, a handful of start-ups are eyeing the social networking industry with renewed interest.

The newfound infusion of confidence comes, in part, from the recent scrutiny focused on Facebook over revisions to its platform and privacy policy that encourage its members to make personal information accessible to anyone on the Internet.

“Right now is the perfect time for us,” said Leo Shimizu, co-founder of a company called Pip.io, which he describes as a social operating system. “People are starting to understand the limitations of Facebook while we’re showing off a product with features that everybody is wanting and didn’t know existed.”

Pip.io is similar to Facebook and Twitter in that it allows its members to post status updates, send messages and connect with friends. But unlike its counterparts, the service allows its users to keep more of the information private.

The service, which completed a test phase in February, has just 20,000 registered members — a drop in the bucket compared with Facebook. But Mr. Shimizu remains undaunted.

“The market opportunity is one of a kind, and it’s up to us to capitalize on it,” he said.

Analysts and industry experts are quick to point out that Facebook has dealt with a number of user protests in its six-year history and emerged unscathed each time, continuing to add new users at a record clip. For many users, the Web site is an irreplaceable nexus of friends, relatives and colleagues online, making it difficult to abandon.

But while there may not yet be any notable challengers to Facebook’s momentum, said Ray Valdes, an analyst at the research firm Gartner, the company could be accumulating enough damage to its reputation that if a worthy opponent emerges, it will have a ready base of people willing to jump ship.

“Facebook is pushing to the edge of users’ comfort zone,” he said. “It has certainly planted a seed in some users’ minds to look for an exit door.”

Also offering a note of courage to hopeful entrepreneurs is the fickle taste of Web denizens. A service that is in vogue one year can just as easily be out of style the next.

“There’s always a cycle of what’s popular in Silicon Valley,” said Mr. Shimizu, citing the decline of services like MySpace, Friendster and AOL. “The Facebook experience can be better, and if we can do that, we can open up a new market.”

A primary reason that Facebook grew to become a central hub of the social networking world is its continuous effort to improve the service by adding new features, said Mikolaj Jan Piskorski, a professor at the Harvard Business School who studies social networks.

“When you look back at how little MySpace changed between 2005 and 2007, it’s staggering,” Mr. Piskorski said. “For Facebook to be taken over, there would need to be a drastic slowdown in the rate of innovation. It would take a lot of work to undermine what Facebook has achieved so far.”

Michael Chisari, a developer in Chicago, said the escalating privacy concerns around Facebook spurred him to resurrect Appleseed, an open source project to develop free software that would allow users to set up their own social networking hubs.

“In the past month, there has been a sea change in the number of people looking for alternatives,” he said. “A year ago, nobody was interested in my project, and now I have about 80 supporters signed up.”

Mr. Chisari, who estimates that Appleseed is six months away from opening to the public, is not the only one trying to create an open alternative. There’s Diaspora, the brainchild of four New York University students who raised more than $180,000 in seed money through Kickstarter, an online site that helps creative people find support. And there are several networks already up and running, like OneSocialWeb, Crabgrass and Elgg, to name a few.

Evelyn Castillo-Bach, an entrepreneur in Florida who created a small, subscription-based site exclusively for students called Collegiate Nation, said she was quickly introducing a version of the platform that anyone would be able join.

“As the drumbeat and awareness for Facebook’s disregard of privacy increased, I realized I shouldn’t delay this,” she said. “Clearly the time is now.”

Ms. Castillo-Bach said she was well aware of the challenges her site, which is called UmeNow and is scheduled to start this month, faces against a behemoth like Facebook.

“We’re a little David,” she said. “My goal is not to become the next Facebook or Twitter but to provide a platform for people who do value their privacy but still want to connect and share information.”

It is difficult to quantify how many Facebookers are frustrated enough to hit the delete button and go searching for greener pastures. One measure is a Web site called QuitFacebookDay, which is calling for Facebook users to close their accounts en masse on May 31 and has attracted nearly 13,000 commitments so far. Another site, called FacebookProtest, which is asking disgruntled users to boycott the Web site on June 6 by not logging in, has drawn roughly 3,000 supporters. In addition, a group on Facebook created to protest recent changes has swelled to more than 2.2 million members.

Matthew Milan, co-creator of QuitFacebookDay.com, said he was so disturbed by the company’s rapidly evolving privacy policy that he had decided it was time to close his account.

“I’m not interested in having my data somewhere I can’t trust what is going to happen to it,” he said.

Mr. Milan said that in lieu of Facebook, he planned to use Flickr for photo uploading and sharing, LinkedIn for business contacts and Twitter for news and updates.

“For all my important contacts, I’ve got their e-mails and phone numbers,” he said. “Those still seem to work.”

According to Facebook, there has been no change in the rate of deactivations in the last few weeks.

Andrew Noyes, a spokesman for the company, said the site had added 10 million users since late April. It is widely expected to announce soon that it has reached half a billion members.

Perhaps in an effort to tamp the growing chorus of complaints, the company has announced plans to simplify its complex menu of privacy controls, which currently includes more than 170 options.

“The messages we’ve received are pretty clear,” Mr. Noyes said in an e-mailed statement. “Users appreciate having precise and comprehensive controls but want them to be simpler and easy to use.”

Others have concluded that it is futile to try to lure users away from Facebook but see an opportunity to appeal to the community already on the site by offering private features they think are missing from Facebook.

Austin Chang, a New York entrepreneur, is testing a Web site called The Fridge that allows people to invite friends from Facebook and Twitter to join a private “fridge” or group to chit-chat and share photos. That way, he said, users can trade inside jokes or last night’s party pictures with their online friends without having to worry that their boss or grandparents may see it.

“I can’t count the number of people who say they’re a different person on Facebook or have a duplicate account,” said Mr. Chang, who hopes to offer his site to the public in a few months. “There is an audience out there looking for options. We’d love to address that, and the timing is just great.”

Siapakah Pengganti Sri Mulyani selaku Menteri Keuangan RI?

0

Posted on : 6:08 PM | By : S Roestam | In :

Siapakah menurut Anda yang paling Pas untuk menggantikan Sri Mulyani Indrawati sebagai Menteri Keuangan R.I. 2010-2014?

Silahkan berikan pendapat Anda pada Polling dibawah ini:


Mengapa Tingkat Kelulusan Ujian Nasional 2010 Menurun?

1

Posted on : 10:44 AM | By : S Roestam | In : ,

Mengapa di suatu sekolah ada yg kelulusan UN-nya = 0%, 25%, 50%, 80%
atau 100%?

Analisa-nya adalah sbb:
Dalam suatu proses belajar-mengajar, ada unsur-unsurnya, yaitu: Siswa, Guru, Sarana atau infrastruktur berupa kelas, buku, alat peraga, laboratorium, fasilitas-fasiltas belajar dan lain-lainnya, serta yg penting adalah materi yang diajarkan serta soal-soal yang di-ujikan
apakah relevan atau tidak dengan pelajaran yang di-ajarkan kepada para murid.

Kalau yg lulus =0% kemungkinannya adalah:

  1. Murid sangat bodoh atau malas
  2. Gurunya yg tidak mampu mengajar
  3. Infrastruktur atau sarana yg tidak ada atau memadai, misalnyakekurangan kertas, alat tulis untuk mencatatat, tidak punya buku2pelajaran, ruang kelas bocor sehingga sering pengajaran dibatalkan,dsb..
  4. Soal-soal ujian UN tidak ada relevansi dengan pelajaran yg pernah diberikan kepada para siswa, sehingga sepandai-pandainya seorang murid, mereka salah menjawab soal ujian UN itu. Ini mengagetkan para peserta ujian UN, sehingga mereka makin groggi...
  5. Dalam suatu proses belajar-mengajar, biasanya selalu ada suatu test awal atau ujian tiap semester, misalnya untuk mengetahui tingkat penyerapan suatu pelajaran di kelas itu. Jadi kalau isi soal UN itu asing atau sangat berbeda dengan test-test semesteran di sekolah, maka jangan harap kalau para siswa bisa lulus UN!

Kalau yg lulus UN = 100% maka analisa kemungkinannya adalah:
  1. Muridnya sangat pandai dan rajin
  2. Gurunya sangat kompeten dan professional
  3. Infrastruktur atau sarana pendidikannya sangat baik dan lengkap
  4. Soal-soal ujian UN sangat relevan dengan pelajaran yg pernah diterima oleh para siswa
  5. Ujian UN itu mirip test-test semesteran di sekolah mereka, sehingga para siswa itu dengan gampang menjawab tiap soal, lulus 100%!

Kalau tingkat kelulusan UN itu diantara 0% dan 100%, maka jawaban
analisanya adalah diantara kedua kasus tersebt diatas.

Yang bikin bingung DIKNAS adalah bilamana banyak murid yg lulus UMPTN, namun tidak lulus UN, sehingga dilarang masuk Perguruan Tinggi. Mana yg lebih penting, lulus UN atau lulus UMTN untuk boleh masuk ke Perguruan Tinggi??

Kesimpulannya: UN hanyalah sebagai sampling penilaian mutu suatu proses belajara-mengajar, sebab yg di-uji hanya 4-matapelajaran, sehingga bukan alat penentu lulus-tidaknya seorang siswa dalam proses belajar-mengajar selama 3-tahun.

Lulus-tidaknya seseorang siswa hendaknya dilihat dari nilai Rapor tiap tahun dan hasil ujian akhir tahun ke-3 dari tiap sekolah. Ini yg lebih logis dan fair bagi para siswa. Saat ini yg jauh lebih penting bagi para siswa adalah kejujuran, ketekunan bekerja, kedisplinan, dan hal-hal yang menyangkut masalah moralitas yg lebih baik.

Silahkan ditanggapi secara logis dan rasional agar bangsa Indonesia dapat maju pesat menuju ke tercapainya cita-cita Kemerdekaan Indonesia: masyarakat yang adil, makmur, aman dan sejahtera bagi segenap warganya.

Heboh Film "Cowboys in Paradise": Shock Theraphy untuk perbaikan carut-marut Dunia Pariwisata Bali

0

Posted on : 8:07 AM | By : S Roestam | In : , ,


Film dokumenter "Cowboys in Paradise" garapan sutradara Amit Virmani yang cuplikannya muncul di media Internet Global Youtube telah mengagetkan banyak pihak yang berkepentingan. Berikut ini adalah berbagai reaksi atau tanggapan sbb:

  • Kemenbudpar belum pernah menerima pengajuan izin pembuatan Film dokumenter Cowboys in Paradise
  • Gubenur Bali Made Mangku Pastika gerah dengan film berkisah gigolo di Kuta bertajuk Cowboys in Paradise. Ia bakal mengusut film yang merusak citra Bali..
  • Kepolisian Daerah Bali akan menyelidiki asal usul pembuatan film COWBOYS IN PARADISE yang diduga tidak memiliki izin..
  • Film dokumenter itu yang kini tengah menggegerkan Bali sebenarnya sudah cukup lama beredar di luar negeri...
  • Film Cowboys In Paradise Jatuhkan Citra Bali.
  • Sweeping para pemandu wisata yang tidak memiliki identitas...
  • Cowboys itu bukan warga lokal...
Praktek para Cowboys in Paradise itu sebenarnya telah berlangsung cukup lama, hanya saja selama ini luput dari pemberitaan media, walaupun kita dapat mengetahuinya dengan mudah bila kita berjalan-jalan disepanjang pertokoan pantai Kuta, Bali, dan mendengarkan pembicaraan para pemandu turis laki-laki yang berbadan tegap itu.

Segi positifnya, walaupun konotasinya negatif, Bali sebagai tujuan wisata mancanegara makin dikenal dunia. Ini merubah citra pulau Bali yang dahulunya dikenal sebagai pulau Dewata yang sakral yang sarat dengan berbagai upacara keagamaan Hindu, menjadi terkenal dengan konotasi yang negatif, wisata sex.

Kehadiran film "Cowboys in Paradise" ini merupakan shock theraphy bagi para pihak yang berkewenangan dan berkepentingan untuk memajukan industri wisata di Pulau Bali.

Silahkan ditanggapi dan diberikan saran-saran demi kemajuan bangsa dan negara.

Strategi dan Roadmap: Ada banyak jalan menuju ke Roma, hanya satu yang lurus dan cepat

0

Posted on : 8:00 PM | By : S Roestam | In : , , ,

Strategi dan Roadmap (Peta Jalan) adalah dua hal yang sangat penting dalam menuju ke suksesnya suatu usaha atau bisnis, baik itu skala kecil maupun skala besar, nasional.

Di zaman kejayaan kekaisaran Roma memang banyak sekali jalan-jalan raya (Via - bahasa Italia) yang dibangun untuk menuju ke Ibukota Kekaisaran Roma sebagai pusat perekonomian dan peradaban dunia saat itu. Namun hanya ada satu jalan yang lurus dan pendek, sehingga lebih cepat ditempuhnya. Banyak jalan yang panjang dan beliku-liku, sehingga akan lebih lama ditempuhnya. Tanpa peta jalan yang baik, maka akan sering kita tersesat.

Tanpa strategi yang tepat yang diterjemahkan dalam bentuk Peta Jalan (Roadmap), maka kita akan kalah bersaing dan gagal dalam mencapai sasaran-sasaran usaha (goals). Kita sering melihat kegagalan suatu usaha karena memang mereka belum punya strategi dan Roadmap yang tepat untuk memenangkan persaingan dan mencapai sasaran mereka.

Beberapa waktu yang lalu kita mendengar kalau Garuda dan Merpati merugi dan kalah bersaing dengan perusahaan baru asal negeri jiran, yaitu Air Asia yang memilki strategi jitu untuk memenuhi tempat duduk pesawat setiap penerbangan, sehingga dapat memasang tarif yang sangat kompetitif, serta mereka tidak menyediakan makanan di pesawat yg merepotkan operasionalnya.

Kita juga terkaget-kaget mendengar berita minggu lalu kalau PT KAI harus menutup layanan KA Parahyangan yang dahulunya menjadi cash-cow PT KAI, sebab kalah bersaing dengan layanan travel mobil yang menjadi kompetitif dengan adanya jalan toll Cipularang.

Bagaimanakah situasi persaingan di bidang telematika? Nokia dan BlackBerry yang lama mendominasi pasar Smartphone Indonesia mendapat serangan gencar dari Smartphone Qwerty buatan Cina dan Taiwan dengan produk BlackBerry-like, seperti BlueBerry, RedBerry, CherryBerry, dll, yang jauh lebih murah (dibawah Rp 1 jutaan), Qwerty keyboard, dan penuh dengan fitur2 canggih: Dual GSM on, TV, FM, Video, camera, WiFi, FB, Twitter, YM, Skype, dll. Ini dimungkinkan berkat software Java yang sangat canggih.

Di sisi lain, Smartphone iPhone dari Apple Computers mendapat tantangan dari pendatang baru, yaitu Smartphone berbasiskan Operating System Android yang Open Source, sehingga membuat harga iPhone turun terus secara perlahan tetapi pasti.

Para operator telekomunikasi Indonesia yang jumlahnya ada 12 saat ini sedang kebingungan untuk mencari strategi dan Roadmap yang tepat untuk menghadapi persaingan diantara mereka sendiri yang sangat ketat, sehingga untuk tetap survive dan menambah jumlah pelanggan mereka harus melakukan banting harga yang terus menggerogoti margin laba dari waktu ke waktu. Sampai kapankah mereka akan tetap bertahan? Kunci untuk dapat melepaskan diri dari spiral yang menuju ke titik dasar adalah: merubah persaingan yang hanya sekadar menjadi penyedia jaringan, ke layanan-layanan yang bernilai tambah, mutu yang lebih baik, layanan data, aplikasi2 baru dan kontent, antara lain mobile advertising, mobile commerce, mobile payment, eLearning, eGov dengan memanfaatkan jejaring sosial yang makin banyak anggotanya.

Bagaimanakah dengan strategi dan Roadmap Broadband di Indonesia? Memang akan ada porsi layanan Fixed Broadband (atau nomadic) dan Mobile Broadband. Namun dilihat dari tren jumlah pelanggan seluler di Dunia maupun di Indonesia yang saat ini sudah mencapai 170 juta orang yang terdaftar, jauh melebihi pelanggan Fixed atau Nomadic Broadband, maka kita perlu untuk memperhatikan perkembangan mobile broadband itu.

Bila sebuah perangkat Terminal (CPE) sudah memenuhi persyaratan Mobile Broadband, maka secara otomatis perangkat tersebut sudah pula memenuhi atau melebihi persyaratan untuk Fixed atau Nomadic Broadband. Pemerintah Indonesia saat ini sudah melakukan tender operator Fixed dan Nomadic Broadband dengan layanan WiMAXstandar 16d khas Indonesia, namun operator pemenang tender yang sudah mulai melaksanakannya adalah yang pada pita frekwensi 3,3 GHz, sedangkan yang pada pita frekwensi 2,3 GHz masih terus berfikir-fikir, maju mundur, sebab mereka takut investasi mereka tidak akan dapat kembali.

Sementara itu di pasar global pada pita 2,3 GHz dan 2,5 GHz telah mulai diproduksi perangkat CPE yang telah dilengkapi (embedded) dengan modem WiMAX standar 16e yang mobile dengan efisiensi penggunaan pita yang tinggi dan operasional yang sangat mudah dipakai dan inter-operable, dengan harga yang sangat kompetitif, yaitu: laptop, netbook, Smartphones, iPhone, iPad, dll, sesuai standar 4G.

Perangkat2 tersebut memang membutuhkan kecepatan transmisi yang tinggi, diatas 20 Mbps agar menjadi bermanfaat bagi pemiliknya. Perangkat2 tersebut menjadi sangat kurang manfaatnya bilamana kecepatannya lelet, dan menjengkelkan bagi pengguna. Mereka jengkel karena sudah beli mahal, tetapi tidak sesuai dengan fitur2 yang tersedia.

Lalu apakah definisi Boadband? Bagi orang awam, adalah seperti yang disampaikan oleh Ketua Umum Mastel, pak Setyanto P Santosa, yaitu bila kita tekan tombol keyboard, maka secara instant akan muncul hasilnya (misalnya gambar, konten web, dsb). Bila lelet, maka jelas itu bukanlah kecepatan Broadband.

Sementara itu di banyak negara termasuk di Indonesia sudah mulai diuji-coba jaringan dan CPE LTE (Long Term Evolution) sebagai evolusi akhir dari jaringan dan perangkat 3G dan 3.5G (HSDPA, HSPA+, CDMA 2001X EV/DO).

Bagaimanakah Strategi dan Roadmap menuju ke layanan LTE atau WiMAX Standar 16m yang sepadan ini? Tentu perlu dipersiapkan langkah-langkah dan milestones yang tepat, seperti alokasi pita frekwensi yang diperlukan, peraturan perundangan, pilihan teknologi untuk memungkinkan kemajuan industri DN dan sebagainya agar jalan menuju ke Roma itu tidak berliku-liku panjang dan melelahkan, membuat masyarakat pengguna kehilangan momentum untuk memajukan perekonomian nasional yang diklaim tiap sekian persen penetrasi Broadband akan meningkatkan sekian persen GDP.

Silahkan ditanggapi dan semoga bermanfaat bagi kemajuan bangsadan negara.

Infrastruktur Broadband Indonesia timpang, Palapa Ring Timur selesai 2012

0

Posted on : 8:53 PM | By : S Roestam | In : ,

JAKARTA: Forum Inisiatif Indonesia (e-Indonesia Initiative) menilai penggelaran Internet pita lebar di Indonesia timpang, sehingga belum mampu memberikan dampak positif terhadap pembangunan ekonomi nasional. Ketua e-Indonesia Initiatif Forum Suhono Harso Supangkat mengatakan infrastruktur broadband di kawasan timur dan barat Indonesia masih sangat timpang.

"Ketimpangan broadband ini perlu segera dievaluasi dan dibahas bersama," ujarnya kepada Bisnis, kemarin.

Menurut Suhono, evaluasi itu tidak hanya fokus pada semua yang terkait penelitian, pengembangan produk dan layanan broadband tetapi juga pada kebijakan yang terkait agar teknologi informasi dan komunikasi (TIK) memberi dampak positif bagi ekonomi nasional.

Kalangan peneliti, penggiat industri, pengembang TIK, otoritas atau pemerintah dan analis terkait perlu duduk bersama untuk memaparkan dan mendiskusikan hasil-hasil penelitian, pengembangan, ataupun usulan yang berkaitan dengan penerapan TIK nasional.

Dia mengatakan salah satu hambatan dalam menggelar broadband adalah kelanjutan industri dengan standar long term evolution (LTE) dan WiMax sebagai dua teknologi yang sama-sama berada di tingkat generasi 4 (4G) di Indonesia.

Periode seluler, paparnya, telah lewat yang ditandai dengan pesatnya perkembangan telekomunikasi sejak awal 1990. Mulai 2009, Indonesia sudah memasuki periode pengembangan Internet pita lebar (broadband), termasuk LTE dan WiMax.

Setyanto P. Santosa, Ketua Umum Masyarakat Telematika Indonesia mengatakan pertumbuhan TIK belum disertai pertumbuhan ekonomi dan baru sedikit menghasilkan nilai tambah.

"Sisi negatif dari pengembangan TIK saat ini di antaranya turunnya margin operator akibat kompetisi tarif, menurunnya kualitas layanan di 3G dan Internet nirkabel, rendahnya manfaat dari web [Internet dan jeja-ring sosial] karena masih rendahnya pendapatan rakyat Indonesia," paparnya.

Palapa Ring

Sementara itu, Pemerintah menargetkan proyek Palapa Ring sektor timur, yaitu jaringan backbone serat optik bawah laut sepanjang 10.812 km yang menghubungkan Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku dan Papua rampung pada 2012 dengan nilai proyek sekitar Rp5,5 triliun.

Menteri Komunikasi dan Informatika Tifatul Sembiring mengungkapkan Indonesia memiliki kebutuhan pembangunan jaringan backbone serat optik bawah laut sepanjang 50.000 km untuk menghubungkan seluruh pulau di Tanah Air.

Hingga kini, baru 80% dari jaringan yang masuk dalam proyek Palapa Ring tersebut yang telah dibangun, yakni seluruh Indonesia bagian barat hingga Sulawesi. (Sumber: dewi.astuti@bisnis.co.id/roni.yunianto@ bisnis.co.id)