Welcome Message

Blog ini didedikasikan bagi Masyarakat Dunia Maya Indonesia sebagai Forum Komunikasi antar para penggiat teknologi Dunia Maya agar dapat saling berukar informasi dan perkembangan teknologi Dunia Maya di Indonesia dan di Dunia Global Untuk memberikan Komentar/Tanggapan atas posting di Blog ini, Silahkan Klik icon "?" dan isikan komentar/tanggapan Anda sekalian. Silahkan tekan TAB bila diminta mengisi KODE VERIFIKASI Semoga bermanfaat.

MP3 Clips

Dicari Inspirasi untuk Inovasi. Bagaimana melanjutkan Inovasi ke Produk Jadi?

2

Posted on : 8:29 PM | By : S Roestam | In : , , , ,

Bila kita bicara tentang Inovasi, kita perlu belajar dari pengalaman Steve Jobs, Boss Apple Inc., USA. Pada tahun 1989 beliau sempat jengkel karena produk PC baru Apple yang sangat innovatif, LISA (Local Integrated Software Architecture) yang sangat tipis dengan operating system yang terbaru gagal untuk meraih penjualan yang besar, karena hanya terjual 80.000 PC selama 1,5 tahun dan kalah populer dengan PC IBM yang terjual sebanyak 250.000 buah dalam 1-bulan!

Untuk melupakan kegagalan ini, Steve memutuskan untuk mengubur 2.700 buah PC LISA disebuah lapangan yang berbiaya US$1,95 per yard. Ini adalah harga untuk kegagalan dari riset selama 3 tahun dan biaya US$50 juta.

Innovator harus memiliki jiwa pantang mundur dan terus berusaha sampai akhirnya suatu hari Ia akan sukses. Thomas Alpha Edison sang pencipta lampu listrik sebelum sukses juga telah melakukan percobaan sebanyak 10.000 kali yang akhirnya sukses besar.

Steve Jobs akhirnya juga sukses besar dengan berbagai produk gadget-gadget Apple Inc., uang mendunia, dimulai iPod, iTunes, iPhone, Mac Book Air dan yang terbaru adalah iPad yang akan membanjiri pasar Indonesia dalam waktu dekat.

Di Indonesia juga banyak innovator yang potensial, namun sayang banyak diantaranya yang cepat menyerah. Beberapa waktu yang lalu ada yang punya idee cemerlang untuk mengubah air menjadi sumber energi kendaraan bermotor, namun gagal karena lebih banyak ilmu kleniknya dari pada ilmiahnya, walaupun ciptaannya cukup memukau dengan nama "Blue Energy".

Sekitar satu tahun yang lalu, saya menyalip seorang pengendara motor yang motornya ada tabung air dan kabel-kabel dan terlihat airnya mendidih. Setelah saya tanya, pengendara motor itu menjelaskan bahwa motornya memakai sistem penghematan BBM dengan menambahkan gas Hidrogen hasil elektrolisis tabung air yang ada di motornya. Hasilnya adalah penghematan BBM bensin sebesar 50%. Lumaya khan? Kalau dihitung setahun, berapa juta penghematannya?

Sebenarnya penggunaan gas Hidrogen yang dicampur dengan bensin untuk kendaraan bermotor bukanlah penemuan baru, sebab teknik ini diciptakan oleh Mr. Brown dari Australia. Makanya teknologi ini disebut "Brown Energy". Di Indonesia juga sudah ada yang memproduksi peralatan untuk menghemat BBM kendaraan bermotor ini dengan harga sekitar Rp 300.000 - 400.000 yang dijual oleh pengusaha bernama P Hidayatullah dan dipresentasikan dimuka para anggota KADIN Indonesia sekitar 2-tahun yang lalu.

Beberapa bulan yang lalu Tim ITB berhasil menciptakan sebuah mobil kecil bertenaga surya yang sangat efisien. Ada banyak lagi karya-karya innovatif anak-anak bangsa yang muncul di berita-berita nasional, namun kemudian hilang tanpa bekas, sebab hasil-hasil gemilang anak-anak bangsa itu tidak ada yang melanjutkan untuk diproduksi secara komersia dan dipasarkan secara nasional atapun internasional.

Dari fakta-fakta yang ada, banyak anak-anak Indonesia yang sukses mengembangkan produk-produk innovatif mereka di luar negeri, seperti di Amerika Serikat. Jadi permasalahannya, kalau mereka tinngal di LN, mereka bisa sukses karena mendapat dukungan pembinaan dan finansial untuk memulai mengembangkan karya-karya mereka menjadi produk jadi yang komersial.

Dibentuknya Komite Inovatif Nasional (KIN) yang diketuai oleh Bapak Zuhal dan anggotanyanya antara lain adalah Ibu Betti Alisjahbana kita harapkan dapat menjembatani gap untuk dapat mewujudkan karya-karya innovatf anak-anak bangsa menjadi produk-produk jadi yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat.

Silahkan ditanggapi dan semoga bermanfaat bagi kemajuan bangsa dan negara.

Indonesia Negeri yang Makin Permissive

0

Posted on : 10:55 PM | By : S Roestam | In : ,

Heboh soal video asusila telah melanda negeri ini selama lebih dari satu minggu, dimana seru diberitakan bahwa ada ancaman hukuman yang berat bagi pelaku penyebaran video itu maupun para pemainnya. Video itupun ternyata telah di-upload ke situs video Youtube, sehingga seantero duniapun ikut heboh.


Kehebohan adanya video asusila itu ikut menghiasi koran-koran lokal di Afrika Selatan, Australia, Jepang, Amerika Serikat, dan lain-lainnya. Berita itu telah mampu mengimbangi pemberitaan tentang Piala Dunia yang sedang berlangsung di Johannesburg, Afrika Selatan.

Sampai-sampai sang bintang filem-filem hot asal Jepang, Miyabi atau Maria Ozawa ikut pula menanggapi berita asal indonesia itu.

Para pejabat, termasuk MenDiknas dan MenKominfo ikut pula membahas dan memberikan tanggapan atas beredarnya video asusila buatan Indonesia itu. Bermunculan pula tokoh-tokoh analis multimedia "mirip RS" yang semuanya sepakat bahwa video itu memang 90% adalah asli.

Instruksi dari Dinas Pendidikan DKI untuk merazzia ponsel-ponsel para siswa pun telah dilaksanakan oleh para petugas dari Polri, namun dengan hasil nihil, sebab para siswa telah tahu akan adanya razzia itu sehingga telah mereka hapus dari ponsel mereka. Walaupun di tayangan TV beberapa waktu yang lalu, anak-anak remaja, anak-anak sekolah, para pelajar putri yang berkerudung telah pula tahu adanya peredaran video asusila, dan mungkin ada yang telah melihatnya.

Pihak Polri dan Depkominfo telah menyatakan bahwa mereka telah dapat melacak peng-upload video asusila tersebut dari beberapa wilayah Indonesia, namun untuk menetapkan individu pelakunya, masih diperlukan beberapa waktu lagi.

Di fihak lain, belum ada pernyataan yang tegas dari para ulama tentang sikap yang harus diambil, kecuali dari seorang Walikot Makassar yang menyatakan bahwa para pemain video panas itu akan mendapat sangsi moral bila datang ke wilayahnya.

Melihat masih adem-ayemnya para pemimpin agama dan pendekar moral Indonesia, maka dipertanyakan, apakah Indonesia sekarang telah menjadi negeri yang makin permissive?

Silahkan ditanggapi dan semoga bermanfaat bagi kemajuan bangsa dan negara.

Oleh-oleh dari Pabrik WiMAX di Bandung: Produksi Chipset dan Knowledge Workers

0

Klik for Slide Show Pada hari Rabu, 10 Juni 2010 rombongan MASTEL mendapat kesempatan untuk berkunjung ke sebuah pabrik WiMAX yang berlokasi di wilayah Sarijadi, Bandung, Indonesia, untuk menyaksikan sendiri disain chipset baseband WiMAX yang dilaksanakan oleh 60 orang para tenaga ahli asli Indonesia. Pabrik ini dimiliki oleh sebuah perusahaan nasional XIRCA yang dipimpin oleh Ibu Sylvia W. Sumarlin (Ibu Evie) selaku CEO dan Bapak Taufik Aldjufry selaku Chairman/Komisaris.

Karyawan XIRCA berjumlah 60 orang yang semuanya adalah anak-anak muda lulusan perguruan tinggi di Indonesia yang telah terlatih baik, pada awalnya oleh Tim dari INTEL, pabrik chipset terbesar di dunia. Pembuatan chipset WiMAX merupakan sebuah proses dengan teknologi yang sangat tinggi, dan sebagian besar adalah proses disain software sehinggan hanya membutuhkan kemampuan intelektual )otak) yang tinggi, kreatif dan innovatif yang tidak mudah untuk ditiru, kecuali kalau pemilik otak itu yang membawa knowledge (pengetahuan) itu pindah ketempat lain. Sebab knowledge yang ada di-otak manusia adalah jenis Knowledge "Tacit" (pengetahuan yang tersembunyi) yang hanya dapat dipindahkan ke-otak manusia lain melalui pelatihan, diskusi, interaksi dan komunikasi antar manusia, sebelum dapat disimpan dalam bentuk file-file harddisk, CD-ROM, Flash Disk, basis data komputer, buku-buku, dokumen, catatan, video atau rekaman suara (disebut Knowlege "Explicit").

Saat ini XIRCA sudah mampu mengembangkan sendiri knowledge yang dibutuhkan untuk membuat chipset-chipset baru sesuai kebutuhan pasar. Oleh karena itu para karyawan XIRCA memiliki nilai pengetahuan yang sangat tinggi yang langka di dunia. Terbukti dari rate turn-over karyawan yang mencapai sekitar 10-15 orang per bulan, sebab di banyak negara karyawan dengan pengetahuan khusus ini sangat dibutuhkan oleh mereka, dengan iming-iming gaji dan fasilitas yang menggiurkan. Jadi pabrik XIRCA dapat juga disebut sebagai pabrik chipset dan pabrik karyawan berpengetahuan tinggi (knowledge workers). Posisi XIRCA saat ini mirip dengan Citibank di awal tahun 1970-an.

Pabrik XIRCA saat ini merupakan market leader dalam proses pembuatan chipset yang cost-effective, sebab telah menerapkan innovasi baru dalam proses yang sebelumnya berbiaya mahal, sebab testing prototype tidak lagi melalui proses pembuatan hardware chip, namun dengan cara simulasi logic program komputer, sehinnga dapat menghemat pembuatan prototype untuk testing. Dengan proses baru ini, maka diperoleh penghematan sampai US$500.000,- per prototype chipset.

Proses lanjutan pembuatan chipset fisik dilakukan di Singapore. Selanjutnya chipset Baseband WiMAX itu dikemas menjadi perangkat WiMAX Base Station (BS) dan Subscriber Station (SS) di lokasi pabrik lainnya di Padalarang, Bandung yang mengkhusukan untuk produksi/assembling hardware WiMAX. RF Module untuk perangkat WiMAX di-impor dari Luar Negeri, tergantung permintaan pasar, apakah itu WiMAX standar 16d ataupun standar 16e. Jadi secara keseluruhan XIRCA beserta perusahaan sekelompoknya mampu memproduksi kedua jenis standar WiMAX di Indonesia.

Dari hasil diskusi, diperoleh kesimpulan bahwa WiMAX 16d lebih cocok untuk komunikasi point-to-point, seperti penggunaannya untuk backhaul jaringan WimAX atau GSM, sedangkan WiMAX 16e lebih cocok untuk distibusi atau last-mile-access bagi para pelanggan. Kombinasi keduanya secara pembagian fungsional tersebut sangat cocok bagi kondisi Indonesia untuk menyebar-luasan atau penggelaran penggunaan WiMAX diseluruh wilayah tanah air.

Bila saja selama beberapa tahun mendatang dapat dilyani sejumlah 100 juta pelanggan, maka pasti Industri perangkat WiMAX di Indonesia akan maju pesat serta profitable bagi pabrikan-pabrikan/industri nasional Indonesia maupun bagi para operator WiMAX yang telah memenangkan Tender BWA (8 operator).

Semoga oleh-oleh perjalanan MASTEL ke Bandung ini memberikan insiprasi kebijakan untuk mempercepat penggelaran jaringan BWA/WiMAX diseluruh Indoseia yang memberikan manfaat WIN-WIN bagi pabrikan/industri nasional maupun operator, serta mendorong percepatan kemajuan bangsa dan negara.

Silahkan diberikan tanggapan yang konstruktif demi kemajuan bangsa dan negara.

Akses Internet Mobile di Indonesia meningkat 26% Tahun 2010

0

Posted on : 7:31 PM | By : S Roestam | In : ,

Akses Internet melalui perangkat bergerak (mobile) baik ponsel maupun netbook dalam survey terbaru dari lembaga riset Taylor Nelson Sofres yang disponsori oleh Yahoo Indonesia pada tahun 2010 mencatat lonjakan sebesar 26% dibandingkan dengan tahun 2009.

Kenaikan tajam akses Internet mobile ini didorong oleh maraknya akses ke konten hiburan, lagu-lagu, video streaming (youtube), informasi berita dan lain-lain serta maraknya pemanfaatna jejaring sosial menggunakan ponsel dan netbook. Hal in berlangsung walaupun layanan 3G maupun CDMA EVDO masih sering "ndut-ndutan", yang hanya lancar saat promosi awalnya saja. Begitu makin banyak pelanggan yang mendaftar, maka layanan sedikit demi sedikit menurun kualitasnya, dari klaim semula 3,6 Mbps, 7,2 Mbps, 14,4 Mbps maupun 42 Mbps, sebab klaim kecepatan tranmisi yang tinggi itu berdasarkan kecepatan puncak saat hanya ada 1-orang pengguna saja. Kasus ini akan berulang untuk jenis-jenis akses wireless lainnya, baik untuk penggunaan fixed, nomadic maupun mobile, seperti WiMAX atau LTE yang sudah cukup lama ditunggu-tunggu kehadirannya, sebab semua memiliki kemiripan, yaitu keterbatasan kapasitas jumlah pengguna pada satu saat (concurrent users) yang masing-masing ada keterbatasannya.

Masyarakat saat ini masih dapat menerima akses Internet mobile yang lambat bila membuka situs-situs yang padat isi grafiknya, sebab umumnya hanya ingin melihat isi berita-berita, maupun untuk chatting via YM, IM, twitter dan facebook yang dapat tetap berjalan pada kecepatan GPRS maupun EDGE.

Namun dengan makin banyaknya pengguna ponsel canggih (smartphones) seperti iPhone, iPod, iPad, HP Andoid, netbook murah seharga Rp 2-jutaan, maka akan makin banyak masyarakat yang merasa jengkel dan gemes kalau layanan 3G, CDMA EVDO, maupun WiMAX nantinya, bila janji kecepatan transmisi yang tinggi itu akhirnya hanya ter-realisasi dengan kecepatan setara GPRS atau malah dibawahnya, sebab keterbatasan jumlah BTS dan pita yang digunakannya. Keluhan pelanggan akan berkurang bilamana kapasitas concurrent users-nya memang di-disain cukup tinggi untuk dapat menampung lonjakan jumlah pengguna.

Bilamana regulator dan operator layanan broadband wireless (fixed, nomadic dan mobile) tidak dapat menjamin kualitas layanan sesuai janji, terutama kecepatan transmisi, maka layanan broadband menggunakan kabel dan serat optik akan tetap menjadi pilihan pengguna fixed broadband service untuk kepuasan layanan internet atau untuk penggunaan bisnis yang serius yang memerlukan keandalan layanan.

Dari hasil survey, diperoleh kesimpulan bahwa persentase akses Internet yang tertinggi dilakukan 83% dari warnet, 22% dari ponsel/PDA, 19% dari Kantor, 17% dari Sekolah, 16% dari rumah, 9% dari Rumah Teman, dan 7% dari lokasi HotSpot WiFi.

Dari survey juga diperoleh informasi bahwa ada penurunan pelanggan Warnet sebesar 19% tahun 2010 dibanding tahun 2009, karena makin banyak masyarakat yang memilih memasang layanan kabel (ADSL - Speedy) dan serta optik (First Media, dll), sehingga tidak lagi memerlukan layanan warnet, sebab langganan layanan langsung di rumah itu sudah cukup murah, dibawah Rp 200.000 per bulan flat sampai 2 Gbytes dengan kecepatan transmisi sekitar 512 kpbs.

Jumlah pengguna Internet juga dilaporkan sebanyak 25,4 juta (Netizens), dengan rata-rata usia yang terbanyak adalah antara 15-19 tahun. Jumlah ini akan makin meningkat dalam beberapa waktu mendatang, mengingan jumlah ponsel yang beroperasi di Indonesia sudah mencapai 160 juta ponsel.

Semoga bermanfaat untuk merancang layanan-layanan broadband yang baru.

Puluhan Situs Startup muncul untuk siap gantikan Facebook akibat kebijakan privasi yang makin melemah

0

Posted on : 3:58 PM | By : S Roestam | In : ,

Situs jejaring sosial Facebook telah melakukan perubahan kebijakan privasi sebanyak enam kali dalam beberapa tahun terakhir yang mendapat protes dari para anggotanya. Namun dengan jumlah anggota yang saat ini telah mencapai 400-juta, sulit untuk begitu saja meninggalkan FB yang sangat populer sebagai media komunikasi antar anggota yang sangat efektif.

Minggu lalu pun ada upaya untuk memboikot FB gara-gara ada rencana untuk menyelenggarakan lomba membuat karikatur Nabi Muhammad SAW oleh seorang warga AS. Terjadi Pro dan Kontra apakah Indonesia akan memboikot FB. Namun setelah warga AS tersebut mengakui kesalahannya dan meminta maaf kepada ummat Islam sedunia, FB tidak jadi diboikot.

Ketidak puasan terhadap kebijakan privasi di FB memberikan pelua yang besar bagi para pendatang baru untuk mengambil sebagian dari 400-jutaan pelanggan FB dan membuat situs baru itu maju pesat.

Beberapa dari situs-situs baru yang siap menggantikan FB adalah sbb:

1. Pip.io yang mirip Twitter tetapi memberikan tingkat privasi yang lebih tinggi;
2. http://opensource.appleseedproject.org/ -sebuak proyek sosial media Open Source yang memberikan privasi yang lebih baik;
3. http://www.kickstarter.com/ - sosial media startup buatan para mahasiswa Universitas New York;
4. http://www.collegiatenation.com/ - sebuah sosial media baru dari komunitas di California AS;
5. http://www.quitfacebookday.com/ - situs bagi para pengguna FB yang frustrasi.

Ini merupakan kesempatan baik bagi para pengguan FB Indonesia untuk tidak kalah dalam upaya menggantikan FB ke Jejaring Sosial milik Bangsa Indonesia. Silahkan anak-anak muda Indonesia untuk berkreasi bagi kemajuan bangsa dan negara dan tidak tergantung lagi dari situs-situs jaring sosial luar negeri.

Mari kita buktikan bahwa bangsa Indonesia juga bangsa yang kreatif dan innovatif!

------------- Referensi Berita -------------


It sounds like a kamikaze mission: an upstart with a meager number of users and no capital squaring off against Facebook, a social networking juggernaut with more than 400 million members and a $15 billion valuation.

But despite those odds, a handful of start-ups are eyeing the social networking industry with renewed interest.

The newfound infusion of confidence comes, in part, from the recent scrutiny focused on Facebook over revisions to its platform and privacy policy that encourage its members to make personal information accessible to anyone on the Internet.

“Right now is the perfect time for us,” said Leo Shimizu, co-founder of a company called Pip.io, which he describes as a social operating system. “People are starting to understand the limitations of Facebook while we’re showing off a product with features that everybody is wanting and didn’t know existed.”

Pip.io is similar to Facebook and Twitter in that it allows its members to post status updates, send messages and connect with friends. But unlike its counterparts, the service allows its users to keep more of the information private.

The service, which completed a test phase in February, has just 20,000 registered members — a drop in the bucket compared with Facebook. But Mr. Shimizu remains undaunted.

“The market opportunity is one of a kind, and it’s up to us to capitalize on it,” he said.

Analysts and industry experts are quick to point out that Facebook has dealt with a number of user protests in its six-year history and emerged unscathed each time, continuing to add new users at a record clip. For many users, the Web site is an irreplaceable nexus of friends, relatives and colleagues online, making it difficult to abandon.

But while there may not yet be any notable challengers to Facebook’s momentum, said Ray Valdes, an analyst at the research firm Gartner, the company could be accumulating enough damage to its reputation that if a worthy opponent emerges, it will have a ready base of people willing to jump ship.

“Facebook is pushing to the edge of users’ comfort zone,” he said. “It has certainly planted a seed in some users’ minds to look for an exit door.”

Also offering a note of courage to hopeful entrepreneurs is the fickle taste of Web denizens. A service that is in vogue one year can just as easily be out of style the next.

“There’s always a cycle of what’s popular in Silicon Valley,” said Mr. Shimizu, citing the decline of services like MySpace, Friendster and AOL. “The Facebook experience can be better, and if we can do that, we can open up a new market.”

A primary reason that Facebook grew to become a central hub of the social networking world is its continuous effort to improve the service by adding new features, said Mikolaj Jan Piskorski, a professor at the Harvard Business School who studies social networks.

“When you look back at how little MySpace changed between 2005 and 2007, it’s staggering,” Mr. Piskorski said. “For Facebook to be taken over, there would need to be a drastic slowdown in the rate of innovation. It would take a lot of work to undermine what Facebook has achieved so far.”

Michael Chisari, a developer in Chicago, said the escalating privacy concerns around Facebook spurred him to resurrect Appleseed, an open source project to develop free software that would allow users to set up their own social networking hubs.

“In the past month, there has been a sea change in the number of people looking for alternatives,” he said. “A year ago, nobody was interested in my project, and now I have about 80 supporters signed up.”

Mr. Chisari, who estimates that Appleseed is six months away from opening to the public, is not the only one trying to create an open alternative. There’s Diaspora, the brainchild of four New York University students who raised more than $180,000 in seed money through Kickstarter, an online site that helps creative people find support. And there are several networks already up and running, like OneSocialWeb, Crabgrass and Elgg, to name a few.

Evelyn Castillo-Bach, an entrepreneur in Florida who created a small, subscription-based site exclusively for students called Collegiate Nation, said she was quickly introducing a version of the platform that anyone would be able join.

“As the drumbeat and awareness for Facebook’s disregard of privacy increased, I realized I shouldn’t delay this,” she said. “Clearly the time is now.”

Ms. Castillo-Bach said she was well aware of the challenges her site, which is called UmeNow and is scheduled to start this month, faces against a behemoth like Facebook.

“We’re a little David,” she said. “My goal is not to become the next Facebook or Twitter but to provide a platform for people who do value their privacy but still want to connect and share information.”

It is difficult to quantify how many Facebookers are frustrated enough to hit the delete button and go searching for greener pastures. One measure is a Web site called QuitFacebookDay, which is calling for Facebook users to close their accounts en masse on May 31 and has attracted nearly 13,000 commitments so far. Another site, called FacebookProtest, which is asking disgruntled users to boycott the Web site on June 6 by not logging in, has drawn roughly 3,000 supporters. In addition, a group on Facebook created to protest recent changes has swelled to more than 2.2 million members.

Matthew Milan, co-creator of QuitFacebookDay.com, said he was so disturbed by the company’s rapidly evolving privacy policy that he had decided it was time to close his account.

“I’m not interested in having my data somewhere I can’t trust what is going to happen to it,” he said.

Mr. Milan said that in lieu of Facebook, he planned to use Flickr for photo uploading and sharing, LinkedIn for business contacts and Twitter for news and updates.

“For all my important contacts, I’ve got their e-mails and phone numbers,” he said. “Those still seem to work.”

According to Facebook, there has been no change in the rate of deactivations in the last few weeks.

Andrew Noyes, a spokesman for the company, said the site had added 10 million users since late April. It is widely expected to announce soon that it has reached half a billion members.

Perhaps in an effort to tamp the growing chorus of complaints, the company has announced plans to simplify its complex menu of privacy controls, which currently includes more than 170 options.

“The messages we’ve received are pretty clear,” Mr. Noyes said in an e-mailed statement. “Users appreciate having precise and comprehensive controls but want them to be simpler and easy to use.”

Others have concluded that it is futile to try to lure users away from Facebook but see an opportunity to appeal to the community already on the site by offering private features they think are missing from Facebook.

Austin Chang, a New York entrepreneur, is testing a Web site called The Fridge that allows people to invite friends from Facebook and Twitter to join a private “fridge” or group to chit-chat and share photos. That way, he said, users can trade inside jokes or last night’s party pictures with their online friends without having to worry that their boss or grandparents may see it.

“I can’t count the number of people who say they’re a different person on Facebook or have a duplicate account,” said Mr. Chang, who hopes to offer his site to the public in a few months. “There is an audience out there looking for options. We’d love to address that, and the timing is just great.”

Siapakah Pengganti Sri Mulyani selaku Menteri Keuangan RI?

0

Posted on : 6:08 PM | By : S Roestam | In :

Siapakah menurut Anda yang paling Pas untuk menggantikan Sri Mulyani Indrawati sebagai Menteri Keuangan R.I. 2010-2014?

Silahkan berikan pendapat Anda pada Polling dibawah ini:


Mengapa Tingkat Kelulusan Ujian Nasional 2010 Menurun?

1

Posted on : 10:44 AM | By : S Roestam | In : ,

Mengapa di suatu sekolah ada yg kelulusan UN-nya = 0%, 25%, 50%, 80%
atau 100%?

Analisa-nya adalah sbb:
Dalam suatu proses belajar-mengajar, ada unsur-unsurnya, yaitu: Siswa, Guru, Sarana atau infrastruktur berupa kelas, buku, alat peraga, laboratorium, fasilitas-fasiltas belajar dan lain-lainnya, serta yg penting adalah materi yang diajarkan serta soal-soal yang di-ujikan
apakah relevan atau tidak dengan pelajaran yang di-ajarkan kepada para murid.

Kalau yg lulus =0% kemungkinannya adalah:

  1. Murid sangat bodoh atau malas
  2. Gurunya yg tidak mampu mengajar
  3. Infrastruktur atau sarana yg tidak ada atau memadai, misalnyakekurangan kertas, alat tulis untuk mencatatat, tidak punya buku2pelajaran, ruang kelas bocor sehingga sering pengajaran dibatalkan,dsb..
  4. Soal-soal ujian UN tidak ada relevansi dengan pelajaran yg pernah diberikan kepada para siswa, sehingga sepandai-pandainya seorang murid, mereka salah menjawab soal ujian UN itu. Ini mengagetkan para peserta ujian UN, sehingga mereka makin groggi...
  5. Dalam suatu proses belajar-mengajar, biasanya selalu ada suatu test awal atau ujian tiap semester, misalnya untuk mengetahui tingkat penyerapan suatu pelajaran di kelas itu. Jadi kalau isi soal UN itu asing atau sangat berbeda dengan test-test semesteran di sekolah, maka jangan harap kalau para siswa bisa lulus UN!

Kalau yg lulus UN = 100% maka analisa kemungkinannya adalah:
  1. Muridnya sangat pandai dan rajin
  2. Gurunya sangat kompeten dan professional
  3. Infrastruktur atau sarana pendidikannya sangat baik dan lengkap
  4. Soal-soal ujian UN sangat relevan dengan pelajaran yg pernah diterima oleh para siswa
  5. Ujian UN itu mirip test-test semesteran di sekolah mereka, sehingga para siswa itu dengan gampang menjawab tiap soal, lulus 100%!

Kalau tingkat kelulusan UN itu diantara 0% dan 100%, maka jawaban
analisanya adalah diantara kedua kasus tersebt diatas.

Yang bikin bingung DIKNAS adalah bilamana banyak murid yg lulus UMPTN, namun tidak lulus UN, sehingga dilarang masuk Perguruan Tinggi. Mana yg lebih penting, lulus UN atau lulus UMTN untuk boleh masuk ke Perguruan Tinggi??

Kesimpulannya: UN hanyalah sebagai sampling penilaian mutu suatu proses belajara-mengajar, sebab yg di-uji hanya 4-matapelajaran, sehingga bukan alat penentu lulus-tidaknya seorang siswa dalam proses belajar-mengajar selama 3-tahun.

Lulus-tidaknya seseorang siswa hendaknya dilihat dari nilai Rapor tiap tahun dan hasil ujian akhir tahun ke-3 dari tiap sekolah. Ini yg lebih logis dan fair bagi para siswa. Saat ini yg jauh lebih penting bagi para siswa adalah kejujuran, ketekunan bekerja, kedisplinan, dan hal-hal yang menyangkut masalah moralitas yg lebih baik.

Silahkan ditanggapi secara logis dan rasional agar bangsa Indonesia dapat maju pesat menuju ke tercapainya cita-cita Kemerdekaan Indonesia: masyarakat yang adil, makmur, aman dan sejahtera bagi segenap warganya.