Welcome Message

Blog ini didedikasikan bagi Masyarakat Dunia Maya Indonesia sebagai Forum Komunikasi antar para penggiat teknologi Dunia Maya agar dapat saling berukar informasi dan perkembangan teknologi Dunia Maya di Indonesia dan di Dunia Global Untuk memberikan Komentar/Tanggapan atas posting di Blog ini, Silahkan Klik icon "?" dan isikan komentar/tanggapan Anda sekalian. Silahkan tekan TAB bila diminta mengisi KODE VERIFIKASI Semoga bermanfaat.

MP3 Clips

Heboh Film "Cowboys in Paradise": Shock Theraphy untuk perbaikan carut-marut Dunia Pariwisata Bali

0

Posted on : 8:07 AM | By : S Roestam | In : , ,


Film dokumenter "Cowboys in Paradise" garapan sutradara Amit Virmani yang cuplikannya muncul di media Internet Global Youtube telah mengagetkan banyak pihak yang berkepentingan. Berikut ini adalah berbagai reaksi atau tanggapan sbb:

  • Kemenbudpar belum pernah menerima pengajuan izin pembuatan Film dokumenter Cowboys in Paradise
  • Gubenur Bali Made Mangku Pastika gerah dengan film berkisah gigolo di Kuta bertajuk Cowboys in Paradise. Ia bakal mengusut film yang merusak citra Bali..
  • Kepolisian Daerah Bali akan menyelidiki asal usul pembuatan film COWBOYS IN PARADISE yang diduga tidak memiliki izin..
  • Film dokumenter itu yang kini tengah menggegerkan Bali sebenarnya sudah cukup lama beredar di luar negeri...
  • Film Cowboys In Paradise Jatuhkan Citra Bali.
  • Sweeping para pemandu wisata yang tidak memiliki identitas...
  • Cowboys itu bukan warga lokal...
Praktek para Cowboys in Paradise itu sebenarnya telah berlangsung cukup lama, hanya saja selama ini luput dari pemberitaan media, walaupun kita dapat mengetahuinya dengan mudah bila kita berjalan-jalan disepanjang pertokoan pantai Kuta, Bali, dan mendengarkan pembicaraan para pemandu turis laki-laki yang berbadan tegap itu.

Segi positifnya, walaupun konotasinya negatif, Bali sebagai tujuan wisata mancanegara makin dikenal dunia. Ini merubah citra pulau Bali yang dahulunya dikenal sebagai pulau Dewata yang sakral yang sarat dengan berbagai upacara keagamaan Hindu, menjadi terkenal dengan konotasi yang negatif, wisata sex.

Kehadiran film "Cowboys in Paradise" ini merupakan shock theraphy bagi para pihak yang berkewenangan dan berkepentingan untuk memajukan industri wisata di Pulau Bali.

Silahkan ditanggapi dan diberikan saran-saran demi kemajuan bangsa dan negara.

Strategi dan Roadmap: Ada banyak jalan menuju ke Roma, hanya satu yang lurus dan cepat

0

Posted on : 8:00 PM | By : S Roestam | In : , , ,

Strategi dan Roadmap (Peta Jalan) adalah dua hal yang sangat penting dalam menuju ke suksesnya suatu usaha atau bisnis, baik itu skala kecil maupun skala besar, nasional.

Di zaman kejayaan kekaisaran Roma memang banyak sekali jalan-jalan raya (Via - bahasa Italia) yang dibangun untuk menuju ke Ibukota Kekaisaran Roma sebagai pusat perekonomian dan peradaban dunia saat itu. Namun hanya ada satu jalan yang lurus dan pendek, sehingga lebih cepat ditempuhnya. Banyak jalan yang panjang dan beliku-liku, sehingga akan lebih lama ditempuhnya. Tanpa peta jalan yang baik, maka akan sering kita tersesat.

Tanpa strategi yang tepat yang diterjemahkan dalam bentuk Peta Jalan (Roadmap), maka kita akan kalah bersaing dan gagal dalam mencapai sasaran-sasaran usaha (goals). Kita sering melihat kegagalan suatu usaha karena memang mereka belum punya strategi dan Roadmap yang tepat untuk memenangkan persaingan dan mencapai sasaran mereka.

Beberapa waktu yang lalu kita mendengar kalau Garuda dan Merpati merugi dan kalah bersaing dengan perusahaan baru asal negeri jiran, yaitu Air Asia yang memilki strategi jitu untuk memenuhi tempat duduk pesawat setiap penerbangan, sehingga dapat memasang tarif yang sangat kompetitif, serta mereka tidak menyediakan makanan di pesawat yg merepotkan operasionalnya.

Kita juga terkaget-kaget mendengar berita minggu lalu kalau PT KAI harus menutup layanan KA Parahyangan yang dahulunya menjadi cash-cow PT KAI, sebab kalah bersaing dengan layanan travel mobil yang menjadi kompetitif dengan adanya jalan toll Cipularang.

Bagaimanakah situasi persaingan di bidang telematika? Nokia dan BlackBerry yang lama mendominasi pasar Smartphone Indonesia mendapat serangan gencar dari Smartphone Qwerty buatan Cina dan Taiwan dengan produk BlackBerry-like, seperti BlueBerry, RedBerry, CherryBerry, dll, yang jauh lebih murah (dibawah Rp 1 jutaan), Qwerty keyboard, dan penuh dengan fitur2 canggih: Dual GSM on, TV, FM, Video, camera, WiFi, FB, Twitter, YM, Skype, dll. Ini dimungkinkan berkat software Java yang sangat canggih.

Di sisi lain, Smartphone iPhone dari Apple Computers mendapat tantangan dari pendatang baru, yaitu Smartphone berbasiskan Operating System Android yang Open Source, sehingga membuat harga iPhone turun terus secara perlahan tetapi pasti.

Para operator telekomunikasi Indonesia yang jumlahnya ada 12 saat ini sedang kebingungan untuk mencari strategi dan Roadmap yang tepat untuk menghadapi persaingan diantara mereka sendiri yang sangat ketat, sehingga untuk tetap survive dan menambah jumlah pelanggan mereka harus melakukan banting harga yang terus menggerogoti margin laba dari waktu ke waktu. Sampai kapankah mereka akan tetap bertahan? Kunci untuk dapat melepaskan diri dari spiral yang menuju ke titik dasar adalah: merubah persaingan yang hanya sekadar menjadi penyedia jaringan, ke layanan-layanan yang bernilai tambah, mutu yang lebih baik, layanan data, aplikasi2 baru dan kontent, antara lain mobile advertising, mobile commerce, mobile payment, eLearning, eGov dengan memanfaatkan jejaring sosial yang makin banyak anggotanya.

Bagaimanakah dengan strategi dan Roadmap Broadband di Indonesia? Memang akan ada porsi layanan Fixed Broadband (atau nomadic) dan Mobile Broadband. Namun dilihat dari tren jumlah pelanggan seluler di Dunia maupun di Indonesia yang saat ini sudah mencapai 170 juta orang yang terdaftar, jauh melebihi pelanggan Fixed atau Nomadic Broadband, maka kita perlu untuk memperhatikan perkembangan mobile broadband itu.

Bila sebuah perangkat Terminal (CPE) sudah memenuhi persyaratan Mobile Broadband, maka secara otomatis perangkat tersebut sudah pula memenuhi atau melebihi persyaratan untuk Fixed atau Nomadic Broadband. Pemerintah Indonesia saat ini sudah melakukan tender operator Fixed dan Nomadic Broadband dengan layanan WiMAXstandar 16d khas Indonesia, namun operator pemenang tender yang sudah mulai melaksanakannya adalah yang pada pita frekwensi 3,3 GHz, sedangkan yang pada pita frekwensi 2,3 GHz masih terus berfikir-fikir, maju mundur, sebab mereka takut investasi mereka tidak akan dapat kembali.

Sementara itu di pasar global pada pita 2,3 GHz dan 2,5 GHz telah mulai diproduksi perangkat CPE yang telah dilengkapi (embedded) dengan modem WiMAX standar 16e yang mobile dengan efisiensi penggunaan pita yang tinggi dan operasional yang sangat mudah dipakai dan inter-operable, dengan harga yang sangat kompetitif, yaitu: laptop, netbook, Smartphones, iPhone, iPad, dll, sesuai standar 4G.

Perangkat2 tersebut memang membutuhkan kecepatan transmisi yang tinggi, diatas 20 Mbps agar menjadi bermanfaat bagi pemiliknya. Perangkat2 tersebut menjadi sangat kurang manfaatnya bilamana kecepatannya lelet, dan menjengkelkan bagi pengguna. Mereka jengkel karena sudah beli mahal, tetapi tidak sesuai dengan fitur2 yang tersedia.

Lalu apakah definisi Boadband? Bagi orang awam, adalah seperti yang disampaikan oleh Ketua Umum Mastel, pak Setyanto P Santosa, yaitu bila kita tekan tombol keyboard, maka secara instant akan muncul hasilnya (misalnya gambar, konten web, dsb). Bila lelet, maka jelas itu bukanlah kecepatan Broadband.

Sementara itu di banyak negara termasuk di Indonesia sudah mulai diuji-coba jaringan dan CPE LTE (Long Term Evolution) sebagai evolusi akhir dari jaringan dan perangkat 3G dan 3.5G (HSDPA, HSPA+, CDMA 2001X EV/DO).

Bagaimanakah Strategi dan Roadmap menuju ke layanan LTE atau WiMAX Standar 16m yang sepadan ini? Tentu perlu dipersiapkan langkah-langkah dan milestones yang tepat, seperti alokasi pita frekwensi yang diperlukan, peraturan perundangan, pilihan teknologi untuk memungkinkan kemajuan industri DN dan sebagainya agar jalan menuju ke Roma itu tidak berliku-liku panjang dan melelahkan, membuat masyarakat pengguna kehilangan momentum untuk memajukan perekonomian nasional yang diklaim tiap sekian persen penetrasi Broadband akan meningkatkan sekian persen GDP.

Silahkan ditanggapi dan semoga bermanfaat bagi kemajuan bangsadan negara.

Infrastruktur Broadband Indonesia timpang, Palapa Ring Timur selesai 2012

0

Posted on : 8:53 PM | By : S Roestam | In : ,

JAKARTA: Forum Inisiatif Indonesia (e-Indonesia Initiative) menilai penggelaran Internet pita lebar di Indonesia timpang, sehingga belum mampu memberikan dampak positif terhadap pembangunan ekonomi nasional. Ketua e-Indonesia Initiatif Forum Suhono Harso Supangkat mengatakan infrastruktur broadband di kawasan timur dan barat Indonesia masih sangat timpang.

"Ketimpangan broadband ini perlu segera dievaluasi dan dibahas bersama," ujarnya kepada Bisnis, kemarin.

Menurut Suhono, evaluasi itu tidak hanya fokus pada semua yang terkait penelitian, pengembangan produk dan layanan broadband tetapi juga pada kebijakan yang terkait agar teknologi informasi dan komunikasi (TIK) memberi dampak positif bagi ekonomi nasional.

Kalangan peneliti, penggiat industri, pengembang TIK, otoritas atau pemerintah dan analis terkait perlu duduk bersama untuk memaparkan dan mendiskusikan hasil-hasil penelitian, pengembangan, ataupun usulan yang berkaitan dengan penerapan TIK nasional.

Dia mengatakan salah satu hambatan dalam menggelar broadband adalah kelanjutan industri dengan standar long term evolution (LTE) dan WiMax sebagai dua teknologi yang sama-sama berada di tingkat generasi 4 (4G) di Indonesia.

Periode seluler, paparnya, telah lewat yang ditandai dengan pesatnya perkembangan telekomunikasi sejak awal 1990. Mulai 2009, Indonesia sudah memasuki periode pengembangan Internet pita lebar (broadband), termasuk LTE dan WiMax.

Setyanto P. Santosa, Ketua Umum Masyarakat Telematika Indonesia mengatakan pertumbuhan TIK belum disertai pertumbuhan ekonomi dan baru sedikit menghasilkan nilai tambah.

"Sisi negatif dari pengembangan TIK saat ini di antaranya turunnya margin operator akibat kompetisi tarif, menurunnya kualitas layanan di 3G dan Internet nirkabel, rendahnya manfaat dari web [Internet dan jeja-ring sosial] karena masih rendahnya pendapatan rakyat Indonesia," paparnya.

Palapa Ring

Sementara itu, Pemerintah menargetkan proyek Palapa Ring sektor timur, yaitu jaringan backbone serat optik bawah laut sepanjang 10.812 km yang menghubungkan Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku dan Papua rampung pada 2012 dengan nilai proyek sekitar Rp5,5 triliun.

Menteri Komunikasi dan Informatika Tifatul Sembiring mengungkapkan Indonesia memiliki kebutuhan pembangunan jaringan backbone serat optik bawah laut sepanjang 50.000 km untuk menghubungkan seluruh pulau di Tanah Air.

Hingga kini, baru 80% dari jaringan yang masuk dalam proyek Palapa Ring tersebut yang telah dibangun, yakni seluruh Indonesia bagian barat hingga Sulawesi. (Sumber: dewi.astuti@bisnis.co.id/roni.yunianto@ bisnis.co.id)

iPhone memiliki tingkat kerawanan keamanan tertinggi

1

Posted on : 12:37 AM | By : S Roestam | In : ,

HP Pintar (Smartphone) yang paling rawan tingkat keamanannya berdasarkan hasil survey perusahaan nCircle ternyata adalah iPhone buatan Apple Computers. Resiko ini cukup membahayakan bilamana Smartphone iPhone ini digunakan untuk aplikasi bisnis yang memerlukan kerahasiaan data. Perbandingan tingkat kerawanan keamanan bagi iPhone adalah sebesar 57% dibandingkan sebesar 39% bagi HP Android, 28% bagi HP BlackBerry dan 13% bagi HP Nokia.

Dari penelitian, dibuktikan bahwa hacker dapat meng-hack database SMS iPhone dalam waktu 20 detik. Kelemahan keamanan iPhone ini dikarenakan Apple belum memperbaiki fitur enterprise-security dari hardware-nya sejak pertengahan tahun 2009.

Jadi kita perlu memperhatikan tingkat keamanan sebuah Smartphone bilamana akan dipaka untuk komunikasi yang mengandung rahasia bisnis.

-----------------0---------------
Security professionals believe Apple’s iPhone is the riskiest smartphone enterprises can deploy, a survey by nCircle found.
Some 57% of security workers quizzed by the network security provider said the iPhone poses the greatest risk to enterprise’s security, compared to 39% for Android devices, 28% BlackBerry, and 13% Nokia.
The network security firm says Apple could easily make the iPhone more secure “Apple continues to do only the absolute minimum to address enterprise security and supportability requirements,” nCircle director of security operations Andrew Storms states.
Apple hasn't introduced a new enterprise-tailored security feature since hardware level encryption in mid-2009, he added – and even that feature was almost immediately compromised.
Enterprises are slowly responding to the potential threat posed by smartphones, with 58% of respondents having implemented a smartphone security policy to mitigate risk. But just 65% of these enforce that policy in practice.
The vulnerability of the iPhone was highlighted last week when a security researcher at the CanSecWest Security show demonstrated a way to hack the iPhone's SMS database within 20 seconds.

CISCO melepas Produk WiMAX dan Fokus ke IP Core dan EDGE

0

Posted on : 6:11 PM | By : S Roestam | In : ,

Persusahaan Manufaktur Perangakat Telekomunikasi CISCO akhirnya akan lebih fokuspada produk IP Core Network dan perangkat jaringan EDGE dan LTE, serta meninggalkan produksi perangkat WiMAX.

Berita lengkapnya ada dibawah ini:

Company confirms that it will discontinue designing and building new WiMAX base stations and will instead focus its mobility efforts on the IP core and network edge.

Cisco confirmed the change in its mobile strategy during a call last week. "We have decided to focus our efforts on delivering value in the edge and core of the network, and direct future investments on the access side to femto and Wi-Fi technologies," says Sai Subramanian, Director of Product Marketing for Cisco's Wireless Business Group. "We will discontinue building and designing new WiMAX base stations, but will continue shipping existing equipment and supporting existing customer networks."

Cisco entered the WiMAX RAN (radio access network) business through its $330 million acquisition of Dallas based Navini Networks in October 2007. Navini was a pioneer of so called "beamforming technology" that provides additional quality and signal strength by concentrating radio signals in the direction of the receiver - providing additional coverage compared to non-beamforming solutions. Recent studies have shown that beamforming enabled base stations can reduce the number of towers needed by half, providing significant cost savings to WiMAX operators.

Beamforming technology is currently supported in the current mobile WiMAX 802.16e profile and will be included in future revisions of WiMAX (802.16m) as well as LTE. While many vendors have plans to include the technology on their roadmaps, to date few vendors except Cisco have commercial equipment available.

Departing the WiMAX RAN business will allow Cisco to focus on the IP core and network edge where it's a more dominant player. In October 2009, Cisco acquired Starent Networks which offers network agnostic mobile gateway solutions that support a broad range of access technologies including CDMA, GSM, UMTS, WiMAX, Wi-Fi and LTE among others. Over the past few years, Starent has racked up an impressive list of customers including Vodafone, Verizon, Sprint, KDDI and China Unicom, and was selected to provide its technology in Verizon's upcoming LTE network.

While leaving the WiMAX RAN market, Cisco remains an important player in the WiMAX space in providing core and network edge equipment. "We expect to continue to be a significant player in the WiMAX market," says Subramanian. "We will continue to be big players in the WiMAX space, just not in the access part of the network."

Cisco is following a trend in the industry in which base stations are becoming a smaller percentage of the overall capital budget. While costs are also coming down, the intelligence of the network is migrating into the core and edge of the network, and base stations are becoming "dumb radios" relative to other parts of the network. Under this scenario, operators will leverage many different types of access technologies including WiMAX, LTE, Wi-FI, 3G depending on a number of factors including spectrum owned, subscriber density, devices, applications and business models.

While exiting the macro-level base station market, Cisco will continue to pursue smaller radio access technologies including femtocells and Wi-Fi. Femtocells are essentially wireless access points used by mobile operators to improve network coverage in small areas and off-load data traffic from their network. Femtocells can use a wide range of technologies and leverage a broadband connection to route the connection back to a carrier, bypassing the operator's macro-cell towers. While femtocells could conceivably include WiMAX or LTE technology, no decisions have been made at this time according to the company. "As we examine the market, we will certainly look at all different types of technologies required and where there is an area we can delivery significant value, rather that is WiMAX, LTE, 3G, etc.," says Subramanian.

While Cisco was not one of the top WiMAX RAN providers, its departure may none the less be seen as a psychological blow to the industry. Cisco's exit leaves Motorola, Alvarion, Samsung and Huawei as the dominant WiMAX RAN vendors in the industry. Cisco follows Alcatel-Lucent and Nokia Siemens Networks who also left the WiMAX market to focus on other access technologies such as LTE.

While WiMAX detractors will surely use this as opportunity to show waning support for the technology, this is not un-similar to other telecommunications markets like CDMA, where a handful of infrastructure providers serve the market. In some ways, industry consolidation is to be expected and is an indicator that the market is maturing.

While the WiMAX equipment market is projected to be $6-$8 billion over the next 3-5 years, it may have been too small relative to Cisco's other markets and opportunities. Although it was involved in around 50 WiMAX networks from an access perspective, it was never in the top 3-4 vendors in the WiMAX RAN market and paled in comparison to its involvement in other parts of WiMAX networks. The company is involved in most all WiMAX networks in some form and is the leading IP core provider for Clearwire's U.S. nation-wide network build out.

A number of factors may have attributed to the slow adoption of the Navini/Cisco WiMAX base stations. Although fewer base stations are needed due to beamforming technology, the per-unit cost of the base stations were more expensive than competitors which often put them at a disadvantage in RFPs. Although research showed that operators could actually lower total network costs by utilizing beamforming, many of the decision makers were looking for cheaper base stations, especially in the race to put up networks quickly.

Given their complexity and longer sales cycles, the WiMAX macro base stations may also have been more of a challenge for Cisco's channel partners, who are used to selling more established products such as Wi-Fi with higher margins and shorter sales cycles. While many WiMAX networks today support advanced features such as MIMO (multiple-input, multiple-output) antenna technologies, few operators are using these capabilities. Most operators will eventually utilize more advanced MIMO and beamforming technology, but it will take time to implement these capabilities.

Cisco will continue to be active in the WiMAX Forum and the WiMAX Open Patent Alliance according to the company."We are supportive of the WiMAX market and will continue to have WiMAX solutions and serve those customers," says Andy Capener, Director of Service Provider Marketing for Mobility at Cisco. "We are just now going to now focus our efforts on where our expertise resides."

© 2010 WiMax.com Broadband Solutions, Inc.

70 Persen Waktu Luang Rakyat Cina digunakan untuk Ber-Internetan di 60 Kota2 Besar

0

Posted on : 2:24 PM | By : S Roestam | In :


Pengguna Internet di Cina tahun 2009 meningkat 50% dari tahun sebelumnya, yaitu dari 233 juta ke 384 juta orang, lebih banyak dari jumlah penduduk Amerika Serikat. Masyarakat Cina di 60 kota2 besar ternyata menggunakan 70% waktu luangnya untuk ber-Internetan pakai PC yang menggantikan popularitas penggunaan TV.

Sering terjadi suami-istri hampir saja bercerai karena rebutan pakai Internet. Solusinya, mereka terpaksa beli satu lagi PC agar tidak berebut dan menghindarkan perceraian.

Kalau di Indonesia mungkin lebih banyak masyarakat yg pakai HP untuk ber-FB-an atau Chatting, sebab jaringan Wireless Internet Broadband masih lelet, kecuali yang pakai fixed line Serat Optik atau kabel.

Mana yang akan membawa manfaat lebih besar bagi masyarakat ber-Internetan pakai PC atau ber-FB-an atau ber-Chatting-an? Menurut saya, ber-Internetan akan membawa manfaat lebih besar dari pada ber-FB-an, sebab lebih banyak informasi yang lengkap yang dapat diperoleh masyarakat.


Berita lengkapnya ada dibawah ini.

Just how big (or small) a market would Google leave behind were it to pull out of China today? In January, China Internet Network Information Center, the country’s official domain registry and research organization, reported that by the end of 2009, the number of Internet users in China had touched 384 million, more than the entire population of the United States. That’s an increase of around 50 percent over 2008. Moreover, 233 million Chinese—twice as many as in the previous year—accessed the Net on handheld devices, partly because China’s cellular providers started offering 3G services widely last year.
The Chinese are obsessed with the Internet. People in the 60 largest cities in China spend around 70 percent of their leisure time on the Internet, according to a survey we conducted in 2009. In smaller towns, the corresponding number is 50 percent. The PC is fast replacing the TV set as an entertainment hub, and emotions run high over who gets to log on and for how long. In a small city in northwest China, for instance, a man told one of us that domestic squabbles over using the PC got so out of hand that his wife and he discussed spending, for them, a large sum of money to buy another machine—or filing for divorce. They eventually bought a second PC and saved their marriage.

Nokia sediakan Skype App untuk Symbian HP-nya

0

Posted on : 2:46 PM | By : S Roestam | In : ,

Nokia mejadi vendor HP terbaru yang menyediakan Skype App bagi model-model terbaru HP Symbian mereka yang dapat didownload melalui Ovi Store. Dengan Skype App ini maka pengguna HP dapat saling berkomunikasi melali jaringan telpon gratis ini, yaitu Skype-to-Skype calls, menerima panggilan dari nomor Skype, kirim-terima Instant Messages dan files, serta dapat melihat apakah pihak lawannya sedang online. Komunikasi Skype ini dapat dilakukan via WiFi maupun jaringan Seluler GSM.

Berikut ini berita lengkapnya dari eWEEK:

Nokia is the latest company to promote the availability of Skype voice over IP services, announcing on its blog March 3 that the application can now be downloaded free from its Ovi Store and is compatible with the latest version of Symbian.

The application enables users to make free Skype-to-Skype calls, receive calls to an existing Skype number, send and receive instant messages, as well as files, and to see when other Skype users are online. Nokia said it will work over WiFi or a mobile data connection.

With Skype for Nokia smartphones, more than 200 million smartphone users worldwide will be able to take the Skype features they love with them on the move,” said Russ Shaw, Skype general manager of mobile, said in a statement.

Making Skype available direct to consumers will help millions of users to keep in contact with the people that are important to them without worrying about the cost, distance, or whether they are away from a computer,” Shaw continued.

On Feb. 17, Verizon Wireless announced that in March it would make a Skype app available to customers with data plans and handsets running the BlackBerry or Android operating systems. Verizon additionally announced that the VOIP service would be allowed to run over its 3G network, in addition to WiFi.

A Skype app for the Apple iPhone is also in the works and can be expected, Skype announced on its site in earle February, “soon.”

The iPhone app, which would also have the option of running on AT&T’s 3G network, is so far delayed, Skype said, until it can get it just right — offering “CD-quality sound,” as well as tools such as a call-quality indicator, to offer feedback and allow users know exactly what’s going on with their calls.

Nokia believes that the Skype offering will drive new traffic to the Ovi Store, which it launched in May as its answer to the Apple App Store. Called a “smart store,” Ovi learns users’ preferences as they shop, and can show them inventory based on their location — or even what their friends bought.

“We’re seeing around 1.5 million downloads a day through Ovi Store now and believe that the Skype client for Nokia smartphones increases the amount of downloads further,” said Jo Harlow, Nokia’s SVP for smartphones.

The Skype application is currently available on handsets including the Nokia N97 and Nokia 6210 Navigator. A complete list of compatible models is available at the Nokia blog.

On March 2, Nokia introduced the C5, a smartphone on a feature phone budget, and new naming guidelines, to help us mere mortals translate the letter and number combinations in its devices’ names. Going forward, it will offer Cseries, Xseries, Eseries and Nseries handsets, each with a number between one and nine, with nine denoting the most advanced capabilities.